Showing posts with label Artikel Islam. Show all posts
Di saat itulah, sang ayah menangis dan meminta kepada lelaki itu untuk mengembalikan uang itu kepada putranya, karena ia membutuhkannya, dan dia tidak punya dosa dalam hal ini. Sang anak memaksa agar lelaki itu mengambil uangnya. Lalu melepas kepergian lelaki itu di pintu sambil meminta darinya agar tidak menagih ayahnya, dan hendaknya dia meminta sisa hutang itu kepadanya secara pribadi.
Kemudian sang anak mendatangi ayahnya, mencium keningnya seraya berkata, “Ayah, kedudukan ayah lebih besar dari uang itu, segala sesuatu akan diganti jika Allah azza wa jalla memanjangkan usia kita, dan menganugerahi kita dengan kesehatan dan ‘afiyah. Saya tidak tahan melihat kejadian tadi, seandainya saya memiliki segala tanggungan yang wajib ayah bayar, pastilah saya akan membayarkan kepadanya, dan saya tidak mau melihat ada air mata yang jatuh dari kedua mata ayah di atas jenggot ayah yang suci ini.”
Lantas sang ayah pun memeluk putranya, sembari sesegukan karena tangisan haru, menciumnya seraya berkata, “Mudah-mudahan Allah meridhai dan memberikan taufiq kepadamu wahai anakku, serta merealisasikan segala cita-citamu.”
“Akhi (saudaraku), kemarin, salah seorang manajer perusahaan memintaku untuk mencarikan seorang laki-laki muslim, terpercaya lagi memiliki akhlak mulia yang juga memiliki kemampuan menjalankan usaha. Aku tidak menemukan seorang pun yang kukenal dengan kriteria-kriteria itu kecuali kamu. Maka apa pendapatmu jika kita pergi bersama untuk menemuinya sore ini?”
Maka berbinar-binarlah wajah sang anak dengan kebahagiaan, seraya berkata,
Lalu dia bertanya kepada sang anak, “Berapa gajimu?”
Tidaklah pemuda itu mendengarnya, hingga dia menangis sambil berkata, “Bergembiralah wahai ayahku.”
Dengan berbakti kepada keduanya rahmat-rahmat akan diturunkan, segala kesukaran akan disingkapkan. Dan Allah azza wa jalla telah mengaitkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan tauhid, Allah azza wa jalla berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS. Al Israa’. 23]
Di dalam shahihahin, dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal mana yang paling dicintai oleh Allah?” Maka beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Kukatakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Kukatakan, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian jihad di jalan Allah.” [HR.al Bukhari & Muslim]
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan datang atas kalian Uwais bin ‘Amir bersama dengan penduduk Yaman dari Murad kemudian dari Qorn. Dulu dia kena penyakit sopak, kemudian sembuh darinya kecuali selebar koin uang dirham. Dia punya seorang ibu yang dulu dia berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah atas nama Allah, pastilah akan dipenuhiNya. Maka jika kamu mampu dia beristighfar untukmu, maka lakukanlah.” [HR. Muslim]
Ini pula Hiwah bin Syuraih, dia adalah salah seorang Imam kaum muslimin dan ulama yang terkenal. Dia duduk pada halaqohnya mengajar manusia. Berbagai thalib (penuntut ilmu) datang kepadanya dari segenap tempat untuk mendengar darinya. Maka suatu ketika ibunya berkata kepadanya, saat dia berada di tengah-tengah muridnya, “Berdirilah wahai Hiwah, beri makan ayam.” Maka dia pun berdiri dan meninggalkan kajian.
Ketahuilah wahai saudaraku yang tercinta, bahwasanya termasuk pintu-pintu sorga adalah Babul Walid (Pintu berbakti kepada orang tua). Maka janganlah kehilangan pintu tersebut, bersungguh-sungguhlah dalam menaati kedua orang tuamu. Demi Allah, baktimu terhadap keduanya termasuk diantara sebab-sebab kebahagiaanmu di dunia akhirat.
Aku memohon kepada Allah azza wa jalla agar memberikan taufik kepadaku dan seluruh kaum muslimin untuk berbakti kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya. Wallahu a`lam
Selama ini kita mengetahui bahwa nama malaikat maut alias malaikat pencabut nyawa adalah ‘Izrail. Bahkan, nama ‘Izrail telah ditetapkan dalam jajaran 10 malaikat yang wajib diketahui dan diimani oleh umat muslim.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dia berkata, Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda, "Ketika malam aku di isra’kan, aku mencium bau yang sangat wangi, aku bertanya, “Wahai Jibril, bau apakah ini?” Jibril lantas menjawab, “Ini tak lain wangi tukang sisir anak perempuan Fir’aun dan wangi anak laki-laki tukang sisir itu.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana bisa demikian?” Jibril menjawab, “Ketika ia menyisir rambut anak perempuan Fir’aun tiba-tiba sisirnya jatuh kemudian wanita itu mengambilnya dengan membaca Bismillah.
Kemudian anak perempuan Fir’aun berkata, “Hei, dengan nama bapakku.”Wanita tukang sisir menjawab, “Tidak, Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu demikian juga Tuhan ayahmu.” Anak Perempuan Fir’aun bertanya, “Kalau begitu kamu punya Tuhan selain ayahku?” Wanita tukang sisir itu menjawab, “Ya.” Anak Perempuan Fir’aun berkata lagi, “Akan aku melaporkan pada ayahku.” Wanita tukang sisir menjawab, “Silahkan!”
Kemudian anak perempuan Fir’aun memberitahukan kejadian ini kepada ayahnya dan akhirnya wanita tukang sisir dipanggil. Fir’aun bertanya,“Wahai Fulanah, betulkah kamu mempunyai Tuhan selain aku?” Wanita tukang sisir menjawab, 'Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda, "Ada seorang nabi dari nabi-nabi Allah yang ingin pergi berperang, maka beliau berkata kepada umatnya, 'Tidak boleh ikut bersamaku dalam peperangan ini seorang laki-laki yang telah berkumpul dengan istrinya dan dari itu ia mengharapkan anak tapi masih belum mendapatkannya. Begitu pula orang yang telah membangun rumah tetapi atapnya belum selesai. Juga tidak boleh ikut bersamaku orang yang telah membeli kambing atau unta bunting yang ia tunggu kelahiran anaknya.'
Ayah,, Lebih Berharga Dirimu Dari Uang Itu
Posted by : Ciprut-Ciprut ,on :Friday, November 9, 2012,
Saved under :
Artikel Islam
Salah satu da’i berkata, “Ada seorang laki-laki memiliki hutang, dan pada suatu hari datanglah kepadanya pemilik hutang, kemudian mengetuk pintunya. Selanjutnya salah seorang putranya membukakan pintu untuknya. Dengan tiba-tiba, orang itu mendorong masuk tanpa salam dan penghormatan, lalu memegang kerah baju pemilik rumah seraya berkata kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah, bayar hutang-hutangmu, sungguh aku telah bersabar lebih dari seharusnya, kesabaranku sekarang telah habis, sekarang kamu lihat apa yang kulakukan terhadapmu hai laki-laki?!
Pada saat itulah sang anak ikut campur, sementara air mata mengalir dari kedua matanya saat dia melihat ayahandanya ada pada kondisi terhina seperti itu.
Dia berkata,”Berapa hutang yang harus di bayar ayahku?’
Dia menjawab,”Tujuh puluh ribu real.”
Berkata sang anak,”Lepaskan ayahku, tenanglah, bergembiralah, semua akan beres.”
Lalu masuklah sang anak kekamarnya, dimana dia telah mengumpulkan sejumlah uang yang bernilai 27 ribu Real dari gajinya untuk hari pernikahan yang tengah ditunggunya. Akan tetapi dia lebih mementingkan ayahanda dan hutangnya daripada membiarkan uang itu di lemari pakaiannya. Sang anak masuk ke ruangan lantas berkata kepada pemilik hutang, “Ini pembayaran dari hutang ayahku, nilainya 27 ribu Real, nanti akan datang rizki, dan akan kami lunasi sisanya segera dalam waktu dekat Insya Allah.”
Di saat itulah, sang ayah menangis dan meminta kepada lelaki itu untuk mengembalikan uang itu kepada putranya, karena ia membutuhkannya, dan dia tidak punya dosa dalam hal ini. Sang anak memaksa agar lelaki itu mengambil uangnya. Lalu melepas kepergian lelaki itu di pintu sambil meminta darinya agar tidak menagih ayahnya, dan hendaknya dia meminta sisa hutang itu kepadanya secara pribadi.
Kemudian sang anak mendatangi ayahnya, mencium keningnya seraya berkata, “Ayah, kedudukan ayah lebih besar dari uang itu, segala sesuatu akan diganti jika Allah azza wa jalla memanjangkan usia kita, dan menganugerahi kita dengan kesehatan dan ‘afiyah. Saya tidak tahan melihat kejadian tadi, seandainya saya memiliki segala tanggungan yang wajib ayah bayar, pastilah saya akan membayarkan kepadanya, dan saya tidak mau melihat ada air mata yang jatuh dari kedua mata ayah di atas jenggot ayah yang suci ini.”
Lantas sang ayah pun memeluk putranya, sembari sesegukan karena tangisan haru, menciumnya seraya berkata, “Mudah-mudahan Allah meridhai dan memberikan taufiq kepadamu wahai anakku, serta merealisasikan segala cita-citamu.”
Pada hari berikutnya, saat sang anak sedang asyik melaksanakan tugas pekerjaannya, salah seorang sahabatnya yang sudah lama tidak dilihatnya datang menziarahinya. Setelah mengucapkan salam dan bertanya tentang keadaannya, sahabat tadi bertanya,
“Akhi (saudaraku), kemarin, salah seorang manajer perusahaan memintaku untuk mencarikan seorang laki-laki muslim, terpercaya lagi memiliki akhlak mulia yang juga memiliki kemampuan menjalankan usaha. Aku tidak menemukan seorang pun yang kukenal dengan kriteria-kriteria itu kecuali kamu. Maka apa pendapatmu jika kita pergi bersama untuk menemuinya sore ini?”
Maka berbinar-binarlah wajah sang anak dengan kebahagiaan, seraya berkata,
“Mudah-mudahan ini adalah do’a ayah, Allah azza wa jalla telah mengabulkannya.”
Maka dia pun banyak memuji Allah azza wa jalla. Pada waktu pertemuan di sore harinya, tidaklah manajer tersebut melihat kecuali dia merasa tenang dan sangat percaya kepadanya, dan berkata,
“Inilah laki-laki yang tengah kucari.”
Lalu dia bertanya kepada sang anak, “Berapa gajimu?”
Dia menjawab, “Mendekati 5 ribu Real.”
Dia berkata, “Pergi besok pagi, sampaikan surat pengunduran dirimu, gajimu 15 ribu Real, bonus 10% dari laba, dua kali gaji sebagai tempat dan mobil, dan enam bulan gaji akan di bayarkan untuk memperbaiki keadaanmu.”
Tidaklah pemuda itu mendengarnya, hingga dia menangis sambil berkata, “Bergembiralah wahai ayahku.”
Manajer pun bertanya kepadanya tentang sebab tangisannya. Maka pemuda itu pun menceritakan apa yang telah terjadi dua hari sebelumnya. Maka manajer itu pun memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang ayahnya. Adalah hasil dari labanya pada tahun pertama, tidak kurang dari setengah milyar Real Berbakti kepada kedua orang tua adalah bagian dari ketaatan terbesar, dan bentuk taqarrub kepada Allah azza wa jalla yang teragung.
Dengan berbakti kepada keduanya rahmat-rahmat akan diturunkan, segala kesukaran akan disingkapkan. Dan Allah azza wa jalla telah mengaitkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan tauhid, Allah azza wa jalla berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS. Al Israa’. 23]
Di dalam shahihahin, dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal mana yang paling dicintai oleh Allah?” Maka beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Kukatakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Kukatakan, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian jihad di jalan Allah.” [HR.al Bukhari & Muslim]
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan datang atas kalian Uwais bin ‘Amir bersama dengan penduduk Yaman dari Murad kemudian dari Qorn. Dulu dia kena penyakit sopak, kemudian sembuh darinya kecuali selebar koin uang dirham. Dia punya seorang ibu yang dulu dia berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah atas nama Allah, pastilah akan dipenuhiNya. Maka jika kamu mampu dia beristighfar untukmu, maka lakukanlah.” [HR. Muslim]
Ini pula Hiwah bin Syuraih, dia adalah salah seorang Imam kaum muslimin dan ulama yang terkenal. Dia duduk pada halaqohnya mengajar manusia. Berbagai thalib (penuntut ilmu) datang kepadanya dari segenap tempat untuk mendengar darinya. Maka suatu ketika ibunya berkata kepadanya, saat dia berada di tengah-tengah muridnya, “Berdirilah wahai Hiwah, beri makan ayam.” Maka dia pun berdiri dan meninggalkan kajian.
Ketahuilah wahai saudaraku yang tercinta, bahwasanya termasuk pintu-pintu sorga adalah Babul Walid (Pintu berbakti kepada orang tua). Maka janganlah kehilangan pintu tersebut, bersungguh-sungguhlah dalam menaati kedua orang tuamu. Demi Allah, baktimu terhadap keduanya termasuk diantara sebab-sebab kebahagiaanmu di dunia akhirat.
Aku memohon kepada Allah azza wa jalla agar memberikan taufik kepadaku dan seluruh kaum muslimin untuk berbakti kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya. Wallahu a`lam
*Kiriman dari Dr.Taufiq Ibn Muhammad Ibrahim, Madinah al-Munawwarah.Jazahullahu ‘anna khairan
Sumber : Diketik ulang dari Majalah Qiblati Edisi 3, Tahun V, 12-1430/12-2009, Hal.92-95
Sumber : Diketik ulang dari Majalah Qiblati Edisi 3, Tahun V, 12-1430/12-2009, Hal.92-95
0 comments / Continue reading →
Tatkala Penjaga Arasy Lupa Bertasbih dan Bertahmid
Posted by : Ciprut-Ciprut ,on :Sunday, March 11, 2012,
Saved under :
Artikel Islam
Suatu hari Rasulullah Muhammad SAW sedang tawaf di Ka'bah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”
Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”
Orang itu berhenti di satu sudut Ka'bah kemudian menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”
Orang itu merasa dirinya di perolok-olokkan oleh orang dibelakangnya, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnyalah seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.
Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”
Mendengar kata-kata orang badui itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW. “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badui itu.
Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu kelak di akhirat.” Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, serasa tak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Benarkah Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW.
Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah SAW.
Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badui itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”
Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, lalu berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, serta akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar.”
Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”
Orang Arab badui itu berkata lagi, “Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”
Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.
Lantaran tangisan Nabi itu Malaikat Jibril turun kembali seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”
Betapa sukanya orang Arab badui itu, tatkala mendengar berita itu. Ia pun menangis karena tidak berdaya menahan rasa haru.
1 comments / Continue reading →
‘Izrail : Nama Malaikat Yang Tidak Wajib Diimani
Posted by : Ciprut-Ciprut ,on :Saturday, March 10, 2012,
Saved under :
Artikel Islam
![]() |
| Ilustrasi (Gambar Diculik Dari Google) |
Namun setelah ditelusuri, baik dalam Al-Qur’an maupun Hadist shahih, ternyata tidak ditemukan tulisan yang menyatakan bahwa nama malaikat maut adalah ‘Izrail, sebagaimana nama kesembilan malaikat lainnya yang secara jelas tertulis.
Sudah masyhur bahwa nama malaikat maut adalah ‘Izrail. Hanya saja, penamaan ini tidak didapatkan keterangan yang jelas dalam Al-Qur’an Al-Karim dan tidak pula dalam sunnah nabi yang shahih. Keterangan tersebut didapatkan dalam sebagian atsar yang terindikasikan sebagai bagian dari riwayat-riwayat Israiliyat.
Atas dasar ini, tidak diperbolehkan untuk menafikan dan menetapkan secara pasti. Karenanya, kita tidak boleh menetapkan dan meyakini dengan pasti bahwa nama malaikat maut (pencabut nyawa) adalah ‘Izrail. Namun, kita juga tidak boleh meniadakan (atau mengingkari)-nya dengan penuh kepastian. Tapi kita serahkan hakikatnya kepada Allah Ta’ala, lalu kita menamakannya dengan nama yang telah Allah sandangkan untuknya, yaitu “malakul maut.”
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
“Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Sajdah: 11)
Imam Ibnu katsir rahimahullaah berkata dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (1/49), “Adapun malaikat maut, tidak didapatkan keterangan jelas tentang namanya di dalam Al-Qur’an, tidak pula dalam Hadist shahih. Penamaannya terdapat dalam sebagian atsar yang disebut dengan 'Izrail, wallahu a’lam.”
Allah Ta’ala telah berfirman, “Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Sajdah: 11)
Imam Al-sindi berkata, “Tidak ada hadist marfu’ yang menyebutkan namanya.”
Al-Munawi dalam al-Faidh al-Qadir (3/32) setelah menyebutkan bahwa malaikat maut yang namanya masyhur dengan 'Izrail berkata, “Aku tidak mendapatkan penamaan itu dalam khabar (Hadist).”
Syaikh Al-Albani dalam ta’liqnya terhadap perkataan Imam Al-Thahawi, “Dan kita mengimani malaikat maut yang ditugaskan untuk mencabut nyawa alam semesta,” beliau rahimahullaah, “Aku katakan: ini adalah namanya (yang disebutkan) dalam Al-Qur’an. Sedangkan menamakannya dengan 'Izrail, sebagaimana yang tersebut di tengah-tengah manusia, tidak memiliki landasan (dasar). Sesungguhnya penamaan tersebut berasal dari riwayat-riwayat Israiliyat.”
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Malakul maut (malaikat pencabut nyawa) telah masyhur namanya dangan 'Izrail, tapi itu tidak benar. Sesungguhnya nama ini disebutkan dalam riwayat-riwayat Israiliyat yang tidak mengharuskan kita untuk mengimani nama ini. karenanya kita menamakan malaikat yang ditugaskan mencabut nyawa dengan “Malakul maut”, sebagaimana yang Allah 'Azza wa Jalla telah menamakannya dalam firman-Nya,
“Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (Fatwa Ibnu al-Utsaimin: 3/161) wallahu a’lam.
0 comments / Continue reading →
Nasehat & Teguran Dalam Islam
Posted by : Ciprut-Ciprut ,on :Wednesday, February 29, 2012,
Saved under :
Artikel Islam
Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berzikir.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, karya al-Khathib al-Baghdadi, hal. 69)
[2] Niat Menimba Ilmu
Abu Abdillah ar-Rudzabari rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang berangkat menimba ilmu dalam rangka mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 71)
[3] Guru Terbaik
Yusuf bin al-Husain menceritakan: Aku bertanya kepada Dzun Nun tatkala perpisahanku dengannya, “Kepada siapakah aku duduk/berteman dan belajar?”. Beliau menjawab, “Hendaknya kamu duduk bersama orang yang dengan melihatnya akan mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan kepadanya di dalam hatimu. Orang yang pembicaraannya bisa menambah ilmumu. Orang yang tingkah lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Bahkan, kamu pun tidak mau bermaksiat kepada Allah selama kamu sedang berada di sisinya. Dia memberikan nasehat kepadamu dengan perbuatannya, dan tidak menasehatimu dengan ucapannya semata.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 71-72)
[4] Rusaknya Hati
Muhammad bin Ya’qub rahimahullah berkata: Suatu saat aku mendengar al-Junaid ditanya mengenai hati; faktor apa yang merusak hati seorang pemuda? Maka beliau menjawab, “Rasa tamak/hawa nafsu dan ambisi.” Lalu beliau ditanya, “Lantas apa yang bisa memperbaiki keadaannya?”. Beliau menjawab, “Sikap wara’/menjaga diri dari yang diharamkan.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 72)
[5] Kenali Dirimu!
Suatu saat ada seorang lelaki berkata kepada Malik bin Dinar, “Wahai orang yang riya’!”. Maka beliau menjawab, “Sejak kapan kamu mengenal namaku? Tidak ada yang mengenal namaku selain kamu.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 93)
[6] Antara Wajah dan Perbuatan
Sebagian orang bijak mengatakan, “Semestinya bagi orang yang berakal untuk senantiasa memperhatikan wajahnya di depan cermin. Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia perburuk dengan perbuatan jelek. Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 105)
[7] Amalan Setelah Berbuat Dosa
Seorang lelaki menemui seorang ahli ibadah. Ahli ibadah itu bertanya kepadanya, “Apakah kamu pernah melakukan suatu perbuatan dosa?”. Dia menjawab, “Iya.” Ahli ibadah itu pun berkata, “Itu artinya kamu sudah mengetahui bahwa Allah menetapkan hal itu menimpamu?”. Dia menjawab, “Iya.” Lalu ahli ibadah itu berpesan, “Maka sekarang beramallah sampai kamu mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla benar-benar telah menghapus dosa itu darimu.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 124)
[8] Kiat Menghafal Hadits
Waki’ rahimahullah berkata, “Apabila kamu ingin menghafalkan hadits, maka amalkanlah hadits itu.” (lihat mukadimah az-Zuhd karya Imam Waki’, hal. 91)
Waki’ rahimahullah juga berpesan, “Mintalah pertolongan -kepada Allah- untuk menguatkan hafalan dengan cara mempersedikit dosa.” (mukadimah az-Zuhd, hal. 91)
[9] Nikmat dan Adzab
Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang tidak mengenali kenikmatan Allah terhadap dirinya selain urusan makanan dan minumannya, maka sungguh sedikit ilmunya dan telah datang adzab untuknya.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 48)
[10] Larut Dalam Pujian dan Celaan
Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Salah satu ciri orang munafik adalah menggandrungi pujian dan membenci celaan/kritikan.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 51)
[11] Pembersihan Dosa
Ibnu Sirin rahimahullah berkata, “Aku pernah mendapat berita bahwa ada salah seorang dari kaum Anshar yang apabila datang waktu sholat maka dia mengatakan -kepada teman-temannya-: “Berwudhulah kalian, sesungguhnya sebagian ucapan yang tadi kalian katakan lebih kotor daripada hadats.”.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 53)
[12] Hakikat Syukur
Muhammad bin Ka’ab rahimahullah mengatakan tentang maksud ayat (yang artinya), “Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’: 13). Kata beliau, “Hakikat syukur adalah bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 65)
[13] Godaan Perempuan
Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Sungguh apabila aku dititipi untuk menjaga sebuah rumah dari permata itu jauh lebih aku senangi daripada harus dititipi seorang perempuan cantik.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 67)
[14] Menimba Ilmu Atau Bekerja
Abdurrahim bin Sulaiman ar-Razi rahimahullah berkata: Dahulu kami belajar kepada Sufyan ats-Tsauri. Apabila datang kepadanya seorang lelaki dalam rangka menimba ilmu, maka beliau pun bertanya kepadanya, “Apakah kamu memiliki jalan penghasilan?”. Apabila orang itu mengabarkan bahwa dia dalam keadaan cukup, maka beliau memerintahkannya untuk menimba ilmu. Dan apabila ternyata orang itu belum berkecukupan maka beliau memerintahkannya untuk mencari pekerjaan (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 69-10)
[15] Jangan Sebarkan Kekejian!
Khalid bin Ma’dan rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang menceritakan kepada orang-orang semua yang dia lihat dengan kedua pasang matanya, atau apapun yang dia dengar dengan kedua pasang telinganya, atau apa saja yang dipungut oleh kedua tangannya, maka dia termasuk “Orang-orang yang menyukai tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum yang beriman.” (QS. an-Nuur: 19).” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 71)
[16] Sambutan Yang Indah
Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Dahulu apabila kami datang menemui Anas bin Malik, tatkala beliau melihat kedatangan kami maka beliau minta diambilkan minyak wangi. Kemudian beliau mengusap minyak wangi itu dengan kedua telapak tangannya lalu menyalami saudara-saudaranya yang datang.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 81)
[17] Catat, Hafalkan, dan Sampaikan!
Yahya bin Khalid al-Barmaki rahimahullah berkata kepada anaknya, “Dahulu mereka -pendahulu yang salih- mencatat sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka dengar. Mereka menghafalkan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka catat. Kemudian mereka menyampaikan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka hafalkan.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 126)
[18] Bukan Amal Biasa-Biasa
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Amal yang paling berat ada tiga; dermawan ketika kondisi serba sedikit, bersikap wara’/menjauhi keharaman tatkala bersendirian, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang diharapkan dan ditakuti.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 133)
[19] Apalah Artinya Dunia
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Seandainya seluruh isi dunia ini dijadikan halal bagiku, niscaya aku akan tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikkan.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 144)
[20] Puncak Syukur
Muhammad bin al-Hasan rahimahullah menceritakan: as-Sari bertanya kepadaku, “Apakah puncak syukur itu?”. Aku menjawab, “Yaitu Allah tidak didurhakai pada satu nikmat pun -yang telah diberikan-Nya-.” Lalu dia mengatakan, “Jawabanmu tepat, wahai anak muda.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 144)
0 comments / Continue reading →
Wanita Tukang Sisir Anak Perempuan Fir’aun
Posted by : Ciprut-Ciprut ,on :Tuesday, February 28, 2012,
Saved under :
Artikel Islam
![]() |
| Ilustrasi (Foto : Google) |
Kemudian anak perempuan Fir’aun berkata, “Hei, dengan nama bapakku.”Wanita tukang sisir menjawab, “Tidak, Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu demikian juga Tuhan ayahmu.” Anak Perempuan Fir’aun bertanya, “Kalau begitu kamu punya Tuhan selain ayahku?” Wanita tukang sisir itu menjawab, “Ya.” Anak Perempuan Fir’aun berkata lagi, “Akan aku melaporkan pada ayahku.” Wanita tukang sisir menjawab, “Silahkan!”
Kemudian Fir’aun memerintahkan untuk mempersiapkan periuk besar dari tembaga untuk dipanaskan. Satu persatu anak wanita tukang sisir itu mulai dilemparkan ke dalam periuk yang mendidih.
Beberapa saat kemudian, wanita tukang sisir mengajukan permohonan kepada Fir’aun, dengan berkata, “Ada satu permintaan dariku.” Fir’aun menjawab, “Apa permintaanmu?” Wanita tukang sisir menjawab, “Aku ingin tulang tubuhku dan tulang-tulang anak lelakiku kelak dibungkus dalam satu kain untuk kemudian dikuburkan.” Fir’aun menjawab, “Akan aku penuhi permintaanmu.”
Anak-anak lelaki tukang sisir itu masih terus dilemparkan ke dalam periuk mendidih hingga terakhir kalinya tiba giliran anak yang masih menyusu. Pada saat itu wanita tukang sisir nampak ragu-ragu, tetapi tiba-tiba bayi yang masih menyusu itu berkata, “Wahai ibuku, ceburkan diri ibu ke dalam periuk yang mendidih itu, karena sesungguhnya siksa dunia ini jauh lebih ringan dibanding siksa akhirat."
Hikmah Yang Terkandung
1. Anjuran untuk tetap sabar dan teguh ketika muncul fitnah dan pada saat genting.
2. Balasan itu sesuai dengan jenis amal yang dikerjakan.
3. Bagi yang bersabar dalam memegang teguh agama dan tidak takut dicela orang niscaya memperoleh pahala dan ganjaran yang sangat besar, sebagaimana firman Allah, artinya,
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas." (Az-Zumar : 10).
4. Seorang muslim diperbolehkan mengajukan permintaan yang mengandung kebaikan sekalipun kepada thaghut, sebagaimana kisah ini. Wanita tukang sisir anak gadis Fir’aun meminta agar tulang tubuhnya dan anak-anaknya dikubur menjadi satu.
5. Sesungguhnya Allah senantiasa memberi jalan keluar untuk para waliNya dari musibah atau bencana yang menimpa.
6. Ketetapan karamah Allah yang diberikan bagi orang shalih dan shalihah.
7. Karamah termasuk dalam kategori peristiwa langka dan luar biasa.
(Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Edisi Indonesia, 61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat, Pustaka Darul Haq, Jakarta)
(HR. Ahmad, 3/309; ath-Thabrani dalam al-Kabir, 12279, 12280; Ibnu Hibban, 2892,2893.)
0 comments / Continue reading →
Kisah Abu Hurairah
Posted by : Ciprut-Ciprut ,on :Sunday, February 26, 2012,
Saved under :
Artikel Islam
Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati...
Abu Hurairah berkata:
***
Imam Muslim rahimahullah menuturkan sebuah kisah menarik di dalam kitabnya Shahih Muslim. Beliau berkata: Zuhair bin Harb menuturkan kepada saya: [Dia berkata] Umar bin Yunus al-Hanafi menuturkan kepada kami:
[Dia berkata] Ikrimah bin ‘Ammar menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Hurairah menuturkan kepadaku.Abu Hurairah berkata:
Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada juga bersama kami Abu Bakar dan Umar dalam sebuah rombongan [para sahabat]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit meninggalkan rombongan kami. Akhirnya, beliau pun tertinggal di belakang kami. Kami khawatir kalau ada apa-apa yang menimpa beliau sehingga tertinggal dari rombongan. Kami pun merasa khawatir dan berusaha mencari tahu keberadaan beliau. Saat itu, aku adalah orang pertama yang dirundung cemas, jangan-jangan ada sesuatu yang menimpa beliau.
Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati. Ternyata pintu itu tidak ada. Yang aku temukan hanyalah sebuah sungai kecil yang menuju bagian dalam kebun. Sungai itu bersumber dari sebuah mata air di luar kebun. Aku pun meloncat -masuk ke dalam kebun- seperti seekor srigala.
Di dalam kebun itu, aku bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata, “Abu Hurairah?”. Kujawab, “Benar ya Rasulullah”. Beliau mengatakan, “Ada apa denganmu?”. Aku berkata, “Sebelum ini anda berada di tengah-tengah kami, kemudian anda pergi sehingga tertinggal dari rombongan. Kami merasa khawatir ada apa-apa yang terjadi padamu sehingga tertinggal dari rombongan. Kami merasa was-was, dan akulah orang pertama yang merasa cemas. Oleh sebab itu aku datangi kebun ini. Aku pun meloncat -masuk ke dalam kebun- seperti seekor srigala. Sementara para sahabat yang lain tetap berada di belakang.”
Beliau pun bersabda -seraya memberikan sepasang sandalnya kepadaku-, “Pergilah dengan membawa kedua sandalku ini. Siapa saja yang kamu temui di balik kebun ini sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya, maka berikanlah kabar gembira surga untuknya.”
Setelah keluar, ternyata orang pertama yang aku jumpai adalah Umar. Umar pun bertanya, “Ada apa dengan kedua sandal ini wahai Abu Hurairah?”. Aku berkata, “Ini adalah sandal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengutusku dengannya seraya berpesan: Barangsiapa yang aku jumpai di balik kebun ini sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya, maka akan aku berikan kabar gembira surga untuknya.”
Umar pun memukul dadaku dengan tangannya. Aku pun terdorong jatuh dan terduduk di atas pantatku. Umar berkata, “Kembalilah wahai Abu Hurairah.” Aku pun kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seraya menahan tangis aku adukan hal ini kepada beliau. Umar pun ternyata berjalan mengikutiku dari belakang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apa yang terjadi padamu, wahai Abu Hurairah?”. Aku menjawab, “Aku tadi bertemu dengan Umar. Kemudian kukabarkan kepadanya berita yang anda perintahkan. Tiba-tiba Umar mendaratkan sebuah pukulan ke dadaku sehingga aku pun terdorong jatuh dan terduduk di atas pantatku. Umar justru berkata kepadaku, “Kembalilah.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Umar, “Wahai Umar. Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?”. Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu.
Benarkah anda telah mengutus Abu Hurairah dengan membawa kedua sandalmu untuk mengatakan kepada orang yang dia temui; barangsiapa yang dia temui sedangkan dia telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya bahwa dia mendapatkan kabar gembira surga?”.
Beliau pun menjawab, “Benar”. Umar pun menimpali, “Jangan anda lakukan itu. Saya khawatir orang-orang menjadi bersandar kepadanya. Biarkan saja mereka sibuk dengan amalnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Ya, biarkan saja mereka.”
[Diterjemahkan dari Shahih Muslim bersama Syarah Nawawi, juz 2 hal. 77-82]
Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kisah ini menyimpan segudang pelajaran berharga. Imam Nawawi rahimahullah telah menyebutkan sebagian pelajaran yang terkandung di dalam hadits ini sebagai berikut:
1. Tatkala memberitakan rombongan para sahabat yang ada saat itu, Abu Hurairahradhiyallahu’anhu berkata, “Ketika itu ada juga bersama kami Abu Bakar dan Umar…”. Ini merupakan cara pemberitaan yang bagus. Yaitu apabila bermaksud menceritakan serombongan orang namun dirasa terlalu banyak jika harus disebutkan seluruhnya, maka cukuplah disebutkan tokoh-tokohnya. Adapun yang lain cukup disebutkan secara umum (lihat Syarh Muslim [2/77])
2. Di dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa orang yang akan masuk surga adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan disertai keyakinan hati. Hal ini menunjukkan bahwa sekedar mengucapkan kalimat syahadat tanpa disertai keyakinan terhadap kandungannya tidaklah bermanfaat. Demikian pula, keyakinan tauhid yang tidak diucapkan juga tidak berguna. Oleh sebab itu keduanya harus dipadukan; yaitu keyakinan tauhid dan ucapan/syahadat (lihat Syarh Muslim[2/79]). Hal ini tentu saja dengan catatan ucapan dan keyakinan itu juga diiringi dengan amalan; yaitu seorang beribadah kepada Allah semata dan mengingkari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana hal itu telah dipahami…
3. Perbuatan Umar ketika memukul Abu Hurairah bukanlah dalam rangka menjatuhkan atau menyakitinya, akan tetapi demi mencegahnya dari apa yang hendak dia lakukan dan supaya dia benar-benar menahan diri darinya. Sebab, menurut pandangan Umar menyembunyikan berita itu untuk sementara jauh lebih mendatangkan kebaikan daripada menyebarkannya. Karena dengan menyebarkannya membuat orang hanya bersandar dengan tauhid dan meninggalkan amalannya. Tatkala pandangan itu disampaikan Umar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata beliau pun menyetujui pendapatnya (lihat Syarh Muslim [2/80])
4. Hal ini menunjukkan bahwa apabila seorang pemimpin atau orang yang lebih senior memilih suatu pendapat kemudian orang-orang yang mengikutinya memiliki pendapat yang berlainan, semestinya bagi pengikut untuk menyampaikan pendapat itu kepada pemimpin atau seniornya. Apabila tampak baginya bahwa yang benar adalah pendapat si pengikut maka selayaknya pemimpin itu pun rujuk kepadanya. Apabila ternyata sebaliknya -pendapat mereka yang salah-, hendaknya dia menjawab kerancuan yang mereka tanyakan (lihat Syarh Muslim [2/80])
5. Seorang yang berilmu hendaknya menyempatkan diri untuk duduk-duduk bersama murid-murid atau orang-orang yang bertanya kepadanya dalam rangka menyampaikan ilmu atau faidah serta melayani pertanyaan-pertanyaan mereka (lihatSyarh Muslim [2/81])
6. Kisah di atas menunjukkan betapa besar penghormatan dan sopan santun para sahabatradhiyallahu’anhum dalam menunaikan hak-hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam memuliakan beliau dan menaruh rasa kasih sayang yang sangat besar kepada beliau (lihat Syarh Muslim [2/81])
7. Kisah ini juga memberikan pelajaran hendaknya para murid atau pengikut memiliki perhatian dan kepedulian terhadap orang yang mereka ikuti. Hendaknya mereka juga memikirkan tentang kemaslahatan untuknya dan berusaha menyingkirkan mafsadat yang ditemuinya (lihat Syarh Muslim [2/81])
8. Bolehnya memasuki suatu daerah/tempat milik orang lain -termasuk juga menggunakan barang-barang yang ada di dalamnya- walaupun tanpa ijin darinya selama dia mengetahui bahwa orang tersebut [pemiliknya] tidak mempermasalahkan hal itu dikarenakan kedekatan hubungan yang terjalin di antara mereka berdua. Inilah pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama salaf maupun ulama belakangan (lihatSyarh Muslim [2/81])
9. Hendaknya seorang pemimpin mengirimkan suatu tanda yang bisa dikenali oleh para pengikutnya demi mendatangkan ketenangan di hati mereka (lihat Syarh Muslim[2/81]). Sebagaimana halnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dengan membawa sandal beliau agar para sahabat merasa yakin tentang keselamatan beliau dan tidak perlu lagi mencemaskan keadaannya
10. Bolehnya menahan penyebaran sebagian ilmu yang dirasa kurang perlu dalam rangka kemaslahatan yang lebih besar atau dikhawatirkan timbulnya mafsadat (lihat Syarh Muslim [2/81]). Pelajaran serupa juga bisa kita petik dari hadits Mu’adz bin Jabalradhiyallahu’anhu tatkala berboncengan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya -dengan penuh kejujuran- kecuali pasti Allah haramkan dia masuk neraka.” Mu’adz berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya saya kabarkan hadits ini kepada orang-orang sehinga mereka merasa senang?”. Beliau menjawab, “Kalau kamu lakukan hal itu, niscaya mereka akan bersandar (menyepelekan amal).” Menjelang akhir hayatnya barulah Mu’adz bin Jabal menyampaikan hadits ini karena ia khawatir terjatuh dalam perbuatan dosa -yaitu menyembunyikan ilmu- (lihat Syarh Muslim [2/83])
Demikianlah secuplik kisah unik yang dialami oleh sahabat Abu Hurairahradhiyallahu’anhu. Mudah-mudahan menjadi bahan pelajaran bagi kita. Dari sini kita juga bisa memetik pelajaran tentang kedalaman ilmu para ulama salaf dan kepahaman mereka tentang kondisi umat manusia.
Para ulama salaf bukanlah kaum tekstualis yang hanya berkutat pada teks dalil tanpa menganalisa hal-hal lain yang terkait dengannya -sebagaimana tuduhan kaum Liberal-, bahkan mereka pun menyelami dampak dan pengaruh dari suatu dalil terhadap pendengarnya. Mereka menggunakan akalnya demi memahami dan menerapkan dalil, bukan untuk menghakimi dan menyelewengkannya.
Wahai kaum muslimin… Ketahuilah, bahwa kejayaan umat ini hanya akan diraih bersama manhaj salaf. Bukankah Imam Malik rahimahullah telah mengatakan, “Tidak akan memperbaiki kondisi akhir umat ini kecuali sesuatu yang telah berhasil memperbaiki generasi awalnya.” Imam al-Auza’i rahimahullah juga berpesan, “Hendaklah kamu setia dengan jejak para salaf meskipun orang-orang menolakmu. Dan waspadalah dari pendapat akal manusia, meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ungkapan yang indah.” Akankah kita membuang ucapan emas para ulama salaf dan kita telan ucapan kotor kaum sekuler dan pluralis? Kallaa tsumma kallaa -sekali-kali tidak-…!
0 comments / Continue reading →
Larangan Membakar Sarang Semut
Posted by : Ciprut-Ciprut ,on :Saturday, January 28, 2012,
Saved under :
Artikel Islam
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, "Seekor semut menggigit nabi diantara para nabi-nabi, kemudian nabi tersebut memerintahkan supaya membakar sarang semut itu. Kemudian terbakarlah. Lalu Allah mewahyukan kepadanya, 'Apakah hanya karena seekor semut yang menggigitmu lalu engkau memusnahkan suatu umat yang senantiasa membaca tasbih'?"
Hikmah Yang Terkandung:
1. Dilarang membunuh semut, sebagaimana pula dilarang membunuh hewan lain kecuali binatang yang membahayakan.
2. Seluruh hewan bertasbih kepada Allah secara hakiki.
3. Hukum membakar binatang (sarang binatang) pada syariat sebelum Nabi Muhammad diperbolehkan, sedangkan pada syariat Nabi Muhammad dilarang.
4. Celaan terhadap orang yang mulia tetapi melakukan perbuatan yang tidak baik.
5. Dosa tindak kejahatan seseorang tidak merembet pada orang-orang baik, berdasarkan firman Allah, artinya, "Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." (Fathir: 18).
6. Jika siksa Allah datang, bisa saja menimpa orang yang berbuat jahat maupun orang yang baik, ahli maksiat maupun yang taat, sebagaimana firman Allah, artinya, "Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu." (Al-Anfal: 25).
7. Orang yang sering Dzikir dan bertasbih tidak akan semena-mena membunuh binatang (semut) atau memukul atau menginjak dan lainnya sebagai rasa hormat kepada Allah.
[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Edisi Indonesia, 61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat, Pustaka Darul Haq, Jakarta]
[1] HR. Al-Bukhar, 3219; Muslim, 2241; Abu Dawud, 5265; Ahmad, 2/313; an-Nasa'i, 7/211; Ibnu Hibban, 7/463; al-Baghawi, 12/197.
0 comments / Continue reading →
Permohonan Nabi Yusya’ Agar Matahari Tidak Tenggelam
Posted by : Ciprut-Ciprut ,on :Thursday, January 12, 2012,
Saved under :
Artikel Islam
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda, "Ada seorang nabi dari nabi-nabi Allah yang ingin pergi berperang, maka beliau berkata kepada umatnya, 'Tidak boleh ikut bersamaku dalam peperangan ini seorang laki-laki yang telah berkumpul dengan istrinya dan dari itu ia mengharapkan anak tapi masih belum mendapatkannya. Begitu pula orang yang telah membangun rumah tetapi atapnya belum selesai. Juga tidak boleh ikut bersamaku orang yang telah membeli kambing atau unta bunting yang ia tunggu kelahiran anaknya.'Maka berangkatlah nabi tersebut untuk berjihad. Ketika Ashar hampir tiba rombongan tersebut telah sampai di desa atau daerah yang akan dituju. Nabi tersebut memerintahkan kepada matahari, “Wahai matahari, engkau tunduk kepada perintah Allah begitupun. Ya Allah, tahanlah matahari itu sejenak agar tidak terbenam.”
Maka Allah menahan matahari itu hingga Allah menaklukkan daerah tersebut. Setelah itu balatentaranya mengumpulkan semua harta rampasannya di sebuah tempat, kemudian ada api yang menyambar namun tak sampai membakarnya, maka Nabi itu berkata, “Di antara kalian ada yang berkhianat, masih menyimpan sebagian dari harta rampasan, aku harap dari setiap kabilah ada orang yang bersumpah.”
Ketika sampai pada suatu kabilah, tangan nabi tersebut melekat di tangan ketua kabilah itu, kemudian nabi berkata, “Di antara kabilah kalian ada yang berkhianat, aku minta semua orang dari kabilahmu untuk bersumpah.”
Satu persatu mereka disumpah, ketika sampai di salah dua atau tiga orang dari anggota kabilah tersebut, tangan nabi lekat kembali, kemudian nabi berkata, “Kalian telah berkhianat.”
Lalu merekapun mengeluarkan emas sebesar kepala sapi. Emas itu kemudian dikumpulkan dengan harta rampasan lainnya yang telah dikumpulkan sebelumnya di tanah lapang. Tiba-tiba datanglah api menyambar dan melalap harta tersebut.
Harta rampasan memang tidak pernah dihalalkan untuk umat sebelum kita. Dan dihalalkan untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita.
Hikmah Yang Terkandung:
1. Hukum berperang pada umat-umat terdahulu adalah wajib.
2. Urusan-urusan penting tidak selayaknya diserahkan melainkan kepada orang-orang yang memang profesional dan mempunyai kesempatan dalam mengurusinya.
3. Seseorang yang ingin berjihad di jalan Allah hendaknya bersungguh-sungguh dan tidak lagi sibuk memikirkan urusan dunia.
4. Fitnah (gemerlapnya) dunia sering kali menyebabkan seseorang tamak dan ingin hidup langgeng.
5. Seluruh benda mati mengenal Allah, tunduk dan patuh terhadap kehendakNya, senantiasa taat dan tidak melakukan maksiat dalam kondisi apapun.
6. Umat-umat terdahulu tidak diperbolehkan mengambil harta rampasan dalam peperangan, sebaliknya untuk umat Muhammad dihalalkan mengambil harta rampasan.
7. Di kalangan Bani Israil dahulu terdapat beberapa orang shalih yang berjihad di jalan Allah, kemudian mendapat pertolongan dan kemenangan dariNya.
8. Sangsi (adzab) yang diturunkan Allah pada suatu kelompok bisa jadi karena ulah orang-orang yang bodoh.
9. Keburukan khianat. Tidak mungkin api tersebut membakar harta rampasan jika ada seorang yang berkhianat. Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam menceritakan kepada kita bahwasanya ada seorang lelaki yang berkhianat dalam pembagian rampasan kemudian setelah ia mati, di dalam kuburnya ia dilahap api dan bahwasanya orang yang berkhianat dalam urusan rampasan perang, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkan itu di atas punggungnya.
10. Allah subhanahu waTa'ala berbuat sesuai dengan apa yang Dia kehendaki sebagaimana memutuskan hukum sesuai dengan kehendakNya. Hukum-hukum Ilahiyah tidak mungkin dirasuki oleh campur tangan manusia. Terkadang ada hukum Allah yang akal manusia tidak mampu mengetahui hakikatnya. Terhadap hal-hal yang demikian ini hendaknya seorang muslim mengimaninya dan menyerahkan urusannya kepada Allah Yang Maha Mengatur alam. Api yang diturunkan Allah dari langit kemudian membakar harta rampasan nampaknya tidak bisa dicerna akal, dan seolah-olah tidak memberikan manfaat apapun menurut jangkauan pikiran kita yang pendek, yang dapat diterima akal kita yang demikian itu hanya merupakan usaha untuk memusnahkan harta, akan tetapi Allah subhanahu wa Ta'ala mempunyai maksud yang akal kita tidak dapat mengetahuinya. Oleh karena itu, terhadap hal yang demikian ini kita tidak diperbolehkan mencercanya, juga tidak perlu mereka-reka, sebab itu semua merupakan rahasia Allah.
11. Hukum-hukum yang berkaitan dengan kenabian terkadang dinampakkan secara nyata dan terkadang disembunyikan.
[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Edisi Indonesia, 61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat, Pustaka Darul Haq, Jakarta]
0 comments / Continue reading →
-
Simbol gender merupakan simbol yang digunakan untuk menunjukkan jenis kelamin dari bentuk kehidupan serta untuk mengkarakterisasi suatu jeni...
-
Salam Kenal Sobat, postingan pertama nih tentang internet gratis atau lebih dikenal dengan istilah gretongan. Nampaknya Si Tere sedang genca...
-
Ryno Motorcycle merupakan salah satu pelopor motor beroda satu di dunia. Ryno diproduseni oleh perusahaan motor asal Portland, Oregon, Ameri...
-
K ebutuhan akan ponsel saat ini bukan terbatas sebagai alat komunikasi semata. Dewasa justru ada beberapa orang bahkan perusahaan yang khusu...
-
Kahlil Gibran Beberapa dari kamu berkata, "Kegembiraan lebih besar dari kesedihan," namun yang lainnya mengatakan, "Tidak, pe...
-
Ulat Sutera Sutera merupakan serat protein alami yang beberapa jenisnya dapat ditenun menjadi tekstil. Jenis sutera yang paling dikenal adal...
-
T ambora adalah sebuah desa sekaligus budaya yang hilang di Pulau Sumbawa lantaran terkubur oleh abu dan aliran piroklastik dari letusan bes...
-
Kopi yang satu ini sering dikategorikan sebagai cocktail dibandingkan kopi. Terdiri dari campuran kopi hitam yang kental dengan Whiskey den...
-
S ebagian dari kita pasti sudah akrab dengan kata Zombie. Zombie lebih dikenal luas sebagai mayat hidup pemakan manusia dan banyak diangkat ...
-
Ilustrasi (Gambar Diculik Dari Google) Selama ini kita mengetahui bahwa nama malaikat maut alias malaikat pencabut nyawa adalah ‘Izrail. Ba...
Popular Post
Labels
Artikel Pengetahuan
(15)
Artikel Berita
(11)
Artikel Kesehatan
(10)
Artikel Unik
(10)
Artikel Islam
(8)
Artikel Kisah
(6)
Artikel Asah Otak
(4)
Artikel History
(4)
Komputer
(4)
Kata-Kata Bijak
(3)
Misteri
(3)
PC
(3)
Artikel Humor
(2)
Artikel Bermanfaat
(1)
Artikel Kerja
(1)
HP
(1)
Handphone
(1)
Hot News
(1)
aneh
(1)
tes page
(1)
Blog Archive
-
▼
2012
(101)
-
▼
November
(16)
- 10 Handphone Termahal Didunia
- Ayah,, Lebih Berharga Dirimu Dari Uang Itu
- kode-kode html
- Ilmuan Ungkap Berduaan Dengan Lawan Jenis Picu Pen...
- Obama Terpilih, Amerika Akan Menjadi Lebih Ramah
- Cinta Tak Butuh Alasan
- Tambora, Kebudayaan Yang Lenyap Terkubur Abu
- Tambora, Kebudayaan Yang Lenyap Terkubur Abu
- Peneliti Klaim Batuan Di Meksiko Sama Dengan Di Mars
- Peneliti Klaim Batuan Di Meksiko Sama Dengan Di Mars
- Unik, Gajah Bisa Bahasa Korea
- Motor Roda Satu Dari Ryno Motorcycle
- 5 Mitologi Zombie Terpopuler
- 5 Mitologi Zombie Terpopuler
- Struktur Batu Rusa Raksasa Ditemukan
- Cara Merubah Server Opera Turbo
-
▼
November
(16)






