Showing posts with label Artikel History. Show all posts
Tambora adalah sebuah desa sekaligus budaya yang hilang di Pulau Sumbawa lantaran terkubur oleh abu dan aliran piroklastik dari letusan besar Gunung Tambora pada 10 April 1815. Jumlah korban meninggal dan hilang akibat peristiwa ini diklaim mencapai 90.000 jiwa. Ini merupakan bencana letusan gunung berapi terdahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah.
Konon dampak letusan gunung Tambora kala itu turut menggetarkan dunia. Wajar saja, letusan gunung Tambora ini lebih dahsyat 4 kali lipat dari letusan gunung Krakatau pada tahun 1883, dan enam kali lebih hebat dari letusan gunung Pinatubo pada 9 Juni 1991 yang menyebabkan kehancuran kota Roman Pompeii, Filipina.
Gunung berapi Tambora melepaskan tephra lebih dari 30 kilometer kubik dan dipercaya setidaknya menciptakan 400 ton gas sulphur dioxide di lapisan atmosfir sehingga menyebabkan pendinginan global hingga suhu 1 derajat Celcius. Kemudian oleh para ahli volcanologi peristiwa ini dikenal sebagai "The Year Without A Summer (Tahun tanpa musim panas)."
Akibat peristiwa ini, Banyak Ladang di berbagai belahan dunia berangsur mati pada bulan Juni, Juli dan Agustus. Di Prancis dan Jerman, ladang anggur dan jagung pun mati, jika pun tak mati maka imbasnya adalah gagal panen.
Para Ilmuwan lokal dan mancanegara yang penasaran pun mencoba untuk mencari puing-puing desa Tambora yang hilang bak ditelan bumi. Pada tahun 2004, sebuah tim gabungan dari University of Rhode Island, tim dari University of North Carolina di Wilmington, serta tim dari Direktorat Vulkanologi Indonesia memulai penggalian arkeologi di Tambora. Tim tersebut dipimpin oleh Haraldur Sigurdsson.
Untuk melakukan pencarian situs bukanlah hal yang mudah, tim haruslah terlebih dulu memotong batuan apung dan tumpukan abu vulkanik yang memiliki ketebalan mencapai 3 meter. Selama enam minggu penggalian akhirnya ilmuan menemukan bukti pertama dari sebuah kebudayaan yang lenyap akibat letusan Tambora. Situs ini terletak jauh didalam hutan, sekitar 25 km (15,5 mil) sebelah barat Kaldera, 5 km dari tepi pantai.

Menggunakan radar penembus, Ilmuan berhasil menemukan rumah kecil yang telah tertimbun abu sisa vulkanik. Saat rumah digali, ditemukanlah sisa-sisa tulang dua orang dewasa, mangkuk perunggu, pot keramik, serta alat besi dan artefak lainnya.
Dalam temuan tersebut, ternyata desain dan dekorasi artefak milik masyarakat Tambora memiliki kesamaan dengan artefak dari daerah Vietnam dan Kamboja. Tidak sampai disitu, untuk memastikan bahwa tulang yang ditemukan merupakan korban bencana letusan gunung Tambora maka ilmuwan melakukan pengujian.
Pengujian dilakukan dengan menggunakan teknik karbonisasi untuk mengungkapkan bahwa tulang yang ditemukan terdiri dari arang yang dibentuk oleh panas magma. Berdasarkan artefak yang ditemukan terutama benda perunggu, tim menyimpulkan bahwa orang-orang Tambora bukanlah masyarakat miskin. Bukti sejarah menunjukkan bahwa orang-orang di pulau Sumbawa dikenal sampai ke Hindia Timur sebagai penghasil madu, kuda, dan cendana yang digunakan untuk dupa dan obat-obatan. Daerah Tambora pun dianggap sebagai daerah pertanian yang sangat produktif.
Gunung Tambora adalah gunung yang terletak di Pulau Sumbawa. Pulau Sumbawa ini merupakan sebuah pulau yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pulau ini dibatasi oleh Selat Alas di sebelah barat (memisahkan dengan Pulau Lombok), Selat Sape di sebelah timur (memisahkan dengan Pulau Komodo), Samudera Hindia di sebelah selatan, serta Laut Flores di sebelah utara.
Legenda Meletusnya Gunung Tambora
Banyak cerita berkembang terkait sejarah Gunung Tambora atau bagaimana awal mulanya hingga meletus. Mulai dari cerita pertapa sakti yang menghilang kala semedi di gunung tersebut dan menjadikannya awal mula penamaan Tambora (yang berarti mengajak (Ta = panggilan ajakan, mbora = untuk menghilang). Hingga kisah kedatangan perantau, orang suci yang dibunuh oleh Raja Tambora dan memicu kemarahan Tuhan melalui perantara sang gunung.
Kedahsyatan letusan Gunung Tambora dalam meluluhlantakkan peradaban di sekitarnya dapat kita lihat dari sisa kebudayaan masyarakat setempat yang hilang oleh tutupan lahar panas, dan mulai terkuak berkat penemuan arkeologis dari sejarawan lokal serta mancanegara. Temuan bahan logam dan gerabah menunjukkan kebudayaan maupun peradaban masyarakat setempat belum terlalu berkembang. Perkakas tersebut ada, berkat interaksi ekonomi melalui perdagangan dengan Suku Bugis, Mengkasar (Makassar), Maluku, Jawa, Melayu serta bangsa luar Nusantara seperti Arab dan China.
Hasil investigasi sebuah majalah nasional memuat panjang lebar terkait rekaman suasana magis/mistis melalui penuturan warga setempat, yang mengaku pernah memperoleh cincin dari fosil jari manusia yang sudah membatu dan tertimbun lahar beratus tahun lamanya. Diriwayatkan, cincin tersebut mengandung kekuatan supranatural, sanggup membuat pemakainya kasat mata. Sulit dipercaya memang, jika itu diungkap kepada khalayak yang sudah mengenal modernisasi teknologi dan globalisasi budaya. Namun demikianlah kisah mistis yang berkembang di sana.
Sebelum Gunung Tambora meletus, kita dapat mengetahui parahnya kerusakan moral pemimpin Tanah Tambora melalui tulisan Henri Chambert-Loir dalam buku “Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah” yang banyak mengutip penulis Belanda bernama Roorda van Eysinga (1841) dalam bukunya berjudul “Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora”. Dalam buku tersebut dijabarkan kisah orang suci asal Tanah Bengkulu (Pulau Sumatera) yang bernama Said Idrus.
Said Idrus yang menumpang kapal orang Bugis singgah di Negeri Tambora untuk berniaga. Pada suatu hari saudagar ini merapat ke darat, berkeliling daerah setempat hingga sampai waktu sholat dzuhur. Ia pun berhenti sejenak untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Orang dari negeri seberang ini terkaget ketika mendapati binatang (anjing) yang seharusnya tidak boleh berada di dalam masjid. Ia pun mengusirnya keluar. Melihat pengusiran ini, penjaga binatang tersebut marah dan melaporkan kepada Raja Tambora. Rupanya Raja Tambora adalah pemiliknya. Mendapati sesuatu yang tidak nyaman bagi peliharaannya, raja lalu memanggil Said Idrus untuk menghadap.
Kedatangan sang tamu disambut hidangan makanan dari kambing, termasuk binatang yang ia usir ketika sedang beribadah. Rupanya, Raja Tambora hendak menjebak Said Idrus dengan hidangan binatang yang ia berpantang untuk itu.
Setelah selesai memakan, raja memberitahukan perihal daging yang dimakan. Said Idrus mendebat, ia yakin raja telah salah menukar makanan. Mendapati penentangan seperti ini, raja murka dan meminta pengawal membunuh Tuanku Said Idrus. Saudagar ini dibawa ke atas Gunung Tambora. Pengawal menusukkan senjata ke tubuh Said Idrus, tetapi tidak mempan. Rupanya Said Idrus mempunyai ilmu kebal. Akhirnya dengan segala cara mereka memukuli Said Idrus beramai-ramai hingga kepala saudagar ini pecah bersemburan darah. Ia pun menemui ajalnya.
Menurut penuturan penulis Belanda ini, Konon, ketika pasukan pengawal berada di antara Tambora dan istana raja untuk pulang kembali, tiba-tiba batu, debu, lahar panas dari puncak gunung berhamburan keluar menerjang. Api mengikuti kemana orang-orang itu hendak berlari melarikan diri, hingga orang yang berlari ke laut pun terkejar.
Gunung Tambora memuntahkan perutnya dengan dahsyat. Api menyala di gunung, di negeri, di lautan, di bumi (angkasa). Ribuan orang mati terbakar. Belum padam api di gunung, menyusul kemudian datang air bah yang berasal dari tiga ombak besar dari arah Selatan. Negeri Tambora pun menjadi lautan, tujuh negeri kecil ikut tenggelam. Perahu dagang yang berlabuh terbawa hingga naik ke dalam hutan. Kemungkinan besar, karena terjangan Tsunami atau dalam istilah buku dinamakan empoh laut. “Sampai sekarang ini kapal boleh berlabuh di mana bekas Negeri Tambora adanya…,” begitulah petikan dalam buku tersebut.
Negeri-negeri tetangga Kerajaan Tambora seperti Sumbawa, Sanggara/Sanggar, Papekat/Pekat, Kerajaan Dompu dan Bima terkena bencana ini. Di Negeri Sumbawa hujan mengakibatkan binatang mati karena terpapar hujan abu. Tiga tahun lamanya warga negeri ini tidak bisa menggarap sawah. Puluhan ribu orang Sumbawa mati kelaparan, serta banyak lagi yang terkena wabah penyakit, besar kemungkinan akibat banyaknya bangkai hewan maupun manusia tidak terkubur. Mereka yang berhasil selamat meninggalkan negerinya mencari tempat aman.
Tambora adalah sebuah desa sekaligus budaya yang hilang di Pulau Sumbawa lantaran terkubur oleh abu dan aliran piroklastik dari letusan besar Gunung Tambora pada 10 April 1815. Jumlah korban meninggal dan hilang akibat peristiwa ini diklaim mencapai 90.000 jiwa. Ini merupakan bencana letusan gunung berapi terdahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah.
Konon dampak letusan gunung Tambora kala itu turut menggetarkan dunia. Wajar saja, letusan gunung Tambora ini lebih dahsyat 4 kali lipat dari letusan gunung Krakatau pada tahun 1883, dan enam kali lebih hebat dari letusan gunung Pinatubo pada 9 Juni 1991 yang menyebabkan kehancuran kota Roman Pompeii, Filipina.
Gunung berapi Tambora melepaskan tephra lebih dari 30 kilometer kubik dan dipercaya setidaknya menciptakan 400 ton gas sulphur dioxide di lapisan atmosfir sehingga menyebabkan pendinginan global hingga suhu 1 derajat Celcius. Kemudian oleh para ahli volcanologi peristiwa ini dikenal sebagai "The Year Without A Summer (Tahun tanpa musim panas)."
Akibat peristiwa ini, Banyak Ladang di berbagai belahan dunia berangsur mati pada bulan Juni, Juli dan Agustus. Di Prancis dan Jerman, ladang anggur dan jagung pun mati, jika pun tak mati maka imbasnya adalah gagal panen.
Para Ilmuwan lokal dan mancanegara yang penasaran pun mencoba untuk mencari puing-puing desa Tambora yang hilang bak ditelan bumi. Pada tahun 2004, sebuah tim gabungan dari University of Rhode Island, tim dari University of North Carolina di Wilmington, serta tim dari Direktorat Vulkanologi Indonesia memulai penggalian arkeologi di Tambora. Tim tersebut dipimpin oleh Haraldur Sigurdsson.
Untuk melakukan pencarian situs bukanlah hal yang mudah, tim haruslah terlebih dulu memotong batuan apung dan tumpukan abu vulkanik yang memiliki ketebalan mencapai 3 meter. Selama enam minggu penggalian akhirnya ilmuan menemukan bukti pertama dari sebuah kebudayaan yang lenyap akibat letusan Tambora. Situs ini terletak jauh didalam hutan, sekitar 25 km (15,5 mil) sebelah barat Kaldera, 5 km dari tepi pantai.

Menggunakan radar penembus, Ilmuan berhasil menemukan rumah kecil yang telah tertimbun abu sisa vulkanik. Saat rumah digali, ditemukanlah sisa-sisa tulang dua orang dewasa, mangkuk perunggu, pot keramik, serta alat besi dan artefak lainnya.
Dalam temuan tersebut, ternyata desain dan dekorasi artefak milik masyarakat Tambora memiliki kesamaan dengan artefak dari daerah Vietnam dan Kamboja. Tidak sampai disitu, untuk memastikan bahwa tulang yang ditemukan merupakan korban bencana letusan gunung Tambora maka ilmuwan melakukan pengujian.
Pengujian dilakukan dengan menggunakan teknik karbonisasi untuk mengungkapkan bahwa tulang yang ditemukan terdiri dari arang yang dibentuk oleh panas magma. Berdasarkan artefak yang ditemukan terutama benda perunggu, tim menyimpulkan bahwa orang-orang Tambora bukanlah masyarakat miskin. Bukti sejarah menunjukkan bahwa orang-orang di pulau Sumbawa dikenal sampai ke Hindia Timur sebagai penghasil madu, kuda, dan cendana yang digunakan untuk dupa dan obat-obatan. Daerah Tambora pun dianggap sebagai daerah pertanian yang sangat produktif.
Gunung Tambora adalah gunung yang terletak di Pulau Sumbawa. Pulau Sumbawa ini merupakan sebuah pulau yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pulau ini dibatasi oleh Selat Alas di sebelah barat (memisahkan dengan Pulau Lombok), Selat Sape di sebelah timur (memisahkan dengan Pulau Komodo), Samudera Hindia di sebelah selatan, serta Laut Flores di sebelah utara.
Legenda Meletusnya Gunung Tambora
Banyak cerita berkembang terkait sejarah Gunung Tambora atau bagaimana awal mulanya hingga meletus. Mulai dari cerita pertapa sakti yang menghilang kala semedi di gunung tersebut dan menjadikannya awal mula penamaan Tambora (yang berarti mengajak (Ta = panggilan ajakan, mbora = untuk menghilang). Hingga kisah kedatangan perantau, orang suci yang dibunuh oleh Raja Tambora dan memicu kemarahan Tuhan melalui perantara sang gunung.
Kedahsyatan letusan Gunung Tambora dalam meluluhlantakkan peradaban di sekitarnya dapat kita lihat dari sisa kebudayaan masyarakat setempat yang hilang oleh tutupan lahar panas, dan mulai terkuak berkat penemuan arkeologis dari sejarawan lokal serta mancanegara. Temuan bahan logam dan gerabah menunjukkan kebudayaan maupun peradaban masyarakat setempat belum terlalu berkembang. Perkakas tersebut ada, berkat interaksi ekonomi melalui perdagangan dengan Suku Bugis, Mengkasar (Makassar), Maluku, Jawa, Melayu serta bangsa luar Nusantara seperti Arab dan China.
Hasil investigasi sebuah majalah nasional memuat panjang lebar terkait rekaman suasana magis/mistis melalui penuturan warga setempat, yang mengaku pernah memperoleh cincin dari fosil jari manusia yang sudah membatu dan tertimbun lahar beratus tahun lamanya. Diriwayatkan, cincin tersebut mengandung kekuatan supranatural, sanggup membuat pemakainya kasat mata. Sulit dipercaya memang, jika itu diungkap kepada khalayak yang sudah mengenal modernisasi teknologi dan globalisasi budaya. Namun demikianlah kisah mistis yang berkembang di sana.
Sebelum Gunung Tambora meletus, kita dapat mengetahui parahnya kerusakan moral pemimpin Tanah Tambora melalui tulisan Henri Chambert-Loir dalam buku “Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah” yang banyak mengutip penulis Belanda bernama Roorda van Eysinga (1841) dalam bukunya berjudul “Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora”. Dalam buku tersebut dijabarkan kisah orang suci asal Tanah Bengkulu (Pulau Sumatera) yang bernama Said Idrus.
Said Idrus yang menumpang kapal orang Bugis singgah di Negeri Tambora untuk berniaga. Pada suatu hari saudagar ini merapat ke darat, berkeliling daerah setempat hingga sampai waktu sholat dzuhur. Ia pun berhenti sejenak untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Orang dari negeri seberang ini terkaget ketika mendapati binatang (anjing) yang seharusnya tidak boleh berada di dalam masjid. Ia pun mengusirnya keluar. Melihat pengusiran ini, penjaga binatang tersebut marah dan melaporkan kepada Raja Tambora. Rupanya Raja Tambora adalah pemiliknya. Mendapati sesuatu yang tidak nyaman bagi peliharaannya, raja lalu memanggil Said Idrus untuk menghadap.
Kedatangan sang tamu disambut hidangan makanan dari kambing, termasuk binatang yang ia usir ketika sedang beribadah. Rupanya, Raja Tambora hendak menjebak Said Idrus dengan hidangan binatang yang ia berpantang untuk itu.
Setelah selesai memakan, raja memberitahukan perihal daging yang dimakan. Said Idrus mendebat, ia yakin raja telah salah menukar makanan. Mendapati penentangan seperti ini, raja murka dan meminta pengawal membunuh Tuanku Said Idrus. Saudagar ini dibawa ke atas Gunung Tambora. Pengawal menusukkan senjata ke tubuh Said Idrus, tetapi tidak mempan. Rupanya Said Idrus mempunyai ilmu kebal. Akhirnya dengan segala cara mereka memukuli Said Idrus beramai-ramai hingga kepala saudagar ini pecah bersemburan darah. Ia pun menemui ajalnya.
Menurut penuturan penulis Belanda ini, Konon, ketika pasukan pengawal berada di antara Tambora dan istana raja untuk pulang kembali, tiba-tiba batu, debu, lahar panas dari puncak gunung berhamburan keluar menerjang. Api mengikuti kemana orang-orang itu hendak berlari melarikan diri, hingga orang yang berlari ke laut pun terkejar.
Gunung Tambora memuntahkan perutnya dengan dahsyat. Api menyala di gunung, di negeri, di lautan, di bumi (angkasa). Ribuan orang mati terbakar. Belum padam api di gunung, menyusul kemudian datang air bah yang berasal dari tiga ombak besar dari arah Selatan. Negeri Tambora pun menjadi lautan, tujuh negeri kecil ikut tenggelam. Perahu dagang yang berlabuh terbawa hingga naik ke dalam hutan. Kemungkinan besar, karena terjangan Tsunami atau dalam istilah buku dinamakan empoh laut. “Sampai sekarang ini kapal boleh berlabuh di mana bekas Negeri Tambora adanya…,” begitulah petikan dalam buku tersebut.
Negeri-negeri tetangga Kerajaan Tambora seperti Sumbawa, Sanggara/Sanggar, Papekat/Pekat, Kerajaan Dompu dan Bima terkena bencana ini. Di Negeri Sumbawa hujan mengakibatkan binatang mati karena terpapar hujan abu. Tiga tahun lamanya warga negeri ini tidak bisa menggarap sawah. Puluhan ribu orang Sumbawa mati kelaparan, serta banyak lagi yang terkena wabah penyakit, besar kemungkinan akibat banyaknya bangkai hewan maupun manusia tidak terkubur. Mereka yang berhasil selamat meninggalkan negerinya mencari tempat aman.
Sutera merupakan serat protein alami yang beberapa jenisnya dapat ditenun menjadi tekstil. Jenis sutera yang paling dikenal adalah sutera yang diperoleh dari kepompong yang dihasilkan larva ulat sutera kertau ( Bombyx mori ) yang diternak (serikultur). Rupa sutera yang berkemilau disebabkan karena strukturnya yang menyerupai prisma segitiga di dalam serat sehingga memungkinkan kain sutra membiaskan cahaya ke berbagai sudut.
Sumber Wikipedia
Edited By Bangharri

Simbol gender merupakan simbol yang digunakan untuk menunjukkan jenis kelamin dari bentuk kehidupan serta untuk mengkarakterisasi suatu jenis kelamin. Secara umum seperti yang kita ketahui, hanya terdapat dua simbol standar yang sering digunakan untuk melambangkan jenis kelamin yakni simbol jantan dan betina. Namun, sekarang ini penggunaan simbol-simbol tersebut semakin meluas
Sedangkan lingkaran dengan tanda silang yang menempel dibagian bawah menunjukan perlambangan Venus (Aphrodite bahasa Yunani), dewi cinta dan kecantikan, serta simbol kewanitaan. Oleh sebab itu, simbol Venus dilekatkan pada kaum hawa.
Sekitar tahun 1970-an, pria gay mulai menggunakan dua simbol laki-laki untuk melambangkan homoseksualitas pria. Penggunaan simbol ini tentu memiliki jedah untuk menghindari panah dari salah satu simbol memotong lingkaran yang lain.
Dua simbol jenis kelamin pria dengan satu simbol jenis kelamin wanita menunjukan bahwa jenis kelamin pria yang merupakan biseksual. Begitu juga sebaliknya, jika ada dua simbol berjenis kelamin wanita dikombinasikan dengan sebuah simbol jenis kelamin pria berarti menunjukan wanita lah yang biseksual.
Transgender merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan sejak mereka lahir. "Transgender" tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari orientasi seksual mereka. Orang-orang transgender dapat saja mengidentifikasikan dirinya sebagai heteroseksual, homoseksual, biseksual, panseksual, poliseksual, atau aseksual.
Gambar : Berbagai sumber
Tambora, Kebudayaan Yang Lenyap Terkubur Abu
Posted by : Ciprut-Ciprut ,on :Tuesday, November 6, 2012,
Saved under :
Artikel History
Tambora adalah sebuah desa sekaligus budaya yang hilang di Pulau Sumbawa lantaran terkubur oleh abu dan aliran piroklastik dari letusan besar Gunung Tambora pada 10 April 1815. Jumlah korban meninggal dan hilang akibat peristiwa ini diklaim mencapai 90.000 jiwa. Ini merupakan bencana letusan gunung berapi terdahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Konon dampak letusan gunung Tambora kala itu turut menggetarkan dunia. Wajar saja, letusan gunung Tambora ini lebih dahsyat 4 kali lipat dari letusan gunung Krakatau pada tahun 1883, dan enam kali lebih hebat dari letusan gunung Pinatubo pada 9 Juni 1991 yang menyebabkan kehancuran kota Roman Pompeii, Filipina.
Gunung berapi Tambora melepaskan tephra lebih dari 30 kilometer kubik dan dipercaya setidaknya menciptakan 400 ton gas sulphur dioxide di lapisan atmosfir sehingga menyebabkan pendinginan global hingga suhu 1 derajat Celcius. Kemudian oleh para ahli volcanologi peristiwa ini dikenal sebagai "The Year Without A Summer (Tahun tanpa musim panas)."
Akibat peristiwa ini, Banyak Ladang di berbagai belahan dunia berangsur mati pada bulan Juni, Juli dan Agustus. Di Prancis dan Jerman, ladang anggur dan jagung pun mati, jika pun tak mati maka imbasnya adalah gagal panen.
Para Ilmuwan lokal dan mancanegara yang penasaran pun mencoba untuk mencari puing-puing desa Tambora yang hilang bak ditelan bumi. Pada tahun 2004, sebuah tim gabungan dari University of Rhode Island, tim dari University of North Carolina di Wilmington, serta tim dari Direktorat Vulkanologi Indonesia memulai penggalian arkeologi di Tambora. Tim tersebut dipimpin oleh Haraldur Sigurdsson.
Untuk melakukan pencarian situs bukanlah hal yang mudah, tim haruslah terlebih dulu memotong batuan apung dan tumpukan abu vulkanik yang memiliki ketebalan mencapai 3 meter. Selama enam minggu penggalian akhirnya ilmuan menemukan bukti pertama dari sebuah kebudayaan yang lenyap akibat letusan Tambora. Situs ini terletak jauh didalam hutan, sekitar 25 km (15,5 mil) sebelah barat Kaldera, 5 km dari tepi pantai.

Menggunakan radar penembus, Ilmuan berhasil menemukan rumah kecil yang telah tertimbun abu sisa vulkanik. Saat rumah digali, ditemukanlah sisa-sisa tulang dua orang dewasa, mangkuk perunggu, pot keramik, serta alat besi dan artefak lainnya. Dalam temuan tersebut, ternyata desain dan dekorasi artefak milik masyarakat Tambora memiliki kesamaan dengan artefak dari daerah Vietnam dan Kamboja. Tidak sampai disitu, untuk memastikan bahwa tulang yang ditemukan merupakan korban bencana letusan gunung Tambora maka ilmuwan melakukan pengujian.
Pengujian dilakukan dengan menggunakan teknik karbonisasi untuk mengungkapkan bahwa tulang yang ditemukan terdiri dari arang yang dibentuk oleh panas magma. Berdasarkan artefak yang ditemukan terutama benda perunggu, tim menyimpulkan bahwa orang-orang Tambora bukanlah masyarakat miskin. Bukti sejarah menunjukkan bahwa orang-orang di pulau Sumbawa dikenal sampai ke Hindia Timur sebagai penghasil madu, kuda, dan cendana yang digunakan untuk dupa dan obat-obatan. Daerah Tambora pun dianggap sebagai daerah pertanian yang sangat produktif.
Gunung Tambora adalah gunung yang terletak di Pulau Sumbawa. Pulau Sumbawa ini merupakan sebuah pulau yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pulau ini dibatasi oleh Selat Alas di sebelah barat (memisahkan dengan Pulau Lombok), Selat Sape di sebelah timur (memisahkan dengan Pulau Komodo), Samudera Hindia di sebelah selatan, serta Laut Flores di sebelah utara.
Legenda Meletusnya Gunung Tambora
Banyak cerita berkembang terkait sejarah Gunung Tambora atau bagaimana awal mulanya hingga meletus. Mulai dari cerita pertapa sakti yang menghilang kala semedi di gunung tersebut dan menjadikannya awal mula penamaan Tambora (yang berarti mengajak (Ta = panggilan ajakan, mbora = untuk menghilang). Hingga kisah kedatangan perantau, orang suci yang dibunuh oleh Raja Tambora dan memicu kemarahan Tuhan melalui perantara sang gunung. Kedahsyatan letusan Gunung Tambora dalam meluluhlantakkan peradaban di sekitarnya dapat kita lihat dari sisa kebudayaan masyarakat setempat yang hilang oleh tutupan lahar panas, dan mulai terkuak berkat penemuan arkeologis dari sejarawan lokal serta mancanegara. Temuan bahan logam dan gerabah menunjukkan kebudayaan maupun peradaban masyarakat setempat belum terlalu berkembang. Perkakas tersebut ada, berkat interaksi ekonomi melalui perdagangan dengan Suku Bugis, Mengkasar (Makassar), Maluku, Jawa, Melayu serta bangsa luar Nusantara seperti Arab dan China.
Hasil investigasi sebuah majalah nasional memuat panjang lebar terkait rekaman suasana magis/mistis melalui penuturan warga setempat, yang mengaku pernah memperoleh cincin dari fosil jari manusia yang sudah membatu dan tertimbun lahar beratus tahun lamanya. Diriwayatkan, cincin tersebut mengandung kekuatan supranatural, sanggup membuat pemakainya kasat mata. Sulit dipercaya memang, jika itu diungkap kepada khalayak yang sudah mengenal modernisasi teknologi dan globalisasi budaya. Namun demikianlah kisah mistis yang berkembang di sana.
Sebelum Gunung Tambora meletus, kita dapat mengetahui parahnya kerusakan moral pemimpin Tanah Tambora melalui tulisan Henri Chambert-Loir dalam buku “Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah” yang banyak mengutip penulis Belanda bernama Roorda van Eysinga (1841) dalam bukunya berjudul “Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora”. Dalam buku tersebut dijabarkan kisah orang suci asal Tanah Bengkulu (Pulau Sumatera) yang bernama Said Idrus.
Said Idrus yang menumpang kapal orang Bugis singgah di Negeri Tambora untuk berniaga. Pada suatu hari saudagar ini merapat ke darat, berkeliling daerah setempat hingga sampai waktu sholat dzuhur. Ia pun berhenti sejenak untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Orang dari negeri seberang ini terkaget ketika mendapati binatang (anjing) yang seharusnya tidak boleh berada di dalam masjid. Ia pun mengusirnya keluar. Melihat pengusiran ini, penjaga binatang tersebut marah dan melaporkan kepada Raja Tambora. Rupanya Raja Tambora adalah pemiliknya. Mendapati sesuatu yang tidak nyaman bagi peliharaannya, raja lalu memanggil Said Idrus untuk menghadap.
Kedatangan sang tamu disambut hidangan makanan dari kambing, termasuk binatang yang ia usir ketika sedang beribadah. Rupanya, Raja Tambora hendak menjebak Said Idrus dengan hidangan binatang yang ia berpantang untuk itu.
Setelah selesai memakan, raja memberitahukan perihal daging yang dimakan. Said Idrus mendebat, ia yakin raja telah salah menukar makanan. Mendapati penentangan seperti ini, raja murka dan meminta pengawal membunuh Tuanku Said Idrus. Saudagar ini dibawa ke atas Gunung Tambora. Pengawal menusukkan senjata ke tubuh Said Idrus, tetapi tidak mempan. Rupanya Said Idrus mempunyai ilmu kebal. Akhirnya dengan segala cara mereka memukuli Said Idrus beramai-ramai hingga kepala saudagar ini pecah bersemburan darah. Ia pun menemui ajalnya.
Menurut penuturan penulis Belanda ini, Konon, ketika pasukan pengawal berada di antara Tambora dan istana raja untuk pulang kembali, tiba-tiba batu, debu, lahar panas dari puncak gunung berhamburan keluar menerjang. Api mengikuti kemana orang-orang itu hendak berlari melarikan diri, hingga orang yang berlari ke laut pun terkejar.
Gunung Tambora memuntahkan perutnya dengan dahsyat. Api menyala di gunung, di negeri, di lautan, di bumi (angkasa). Ribuan orang mati terbakar. Belum padam api di gunung, menyusul kemudian datang air bah yang berasal dari tiga ombak besar dari arah Selatan. Negeri Tambora pun menjadi lautan, tujuh negeri kecil ikut tenggelam. Perahu dagang yang berlabuh terbawa hingga naik ke dalam hutan. Kemungkinan besar, karena terjangan Tsunami atau dalam istilah buku dinamakan empoh laut. “Sampai sekarang ini kapal boleh berlabuh di mana bekas Negeri Tambora adanya…,” begitulah petikan dalam buku tersebut.
Negeri-negeri tetangga Kerajaan Tambora seperti Sumbawa, Sanggara/Sanggar, Papekat/Pekat, Kerajaan Dompu dan Bima terkena bencana ini. Di Negeri Sumbawa hujan mengakibatkan binatang mati karena terpapar hujan abu. Tiga tahun lamanya warga negeri ini tidak bisa menggarap sawah. Puluhan ribu orang Sumbawa mati kelaparan, serta banyak lagi yang terkena wabah penyakit, besar kemungkinan akibat banyaknya bangkai hewan maupun manusia tidak terkubur. Mereka yang berhasil selamat meninggalkan negerinya mencari tempat aman.
Sumber referensi:
kompasiana.com
0 comments / Continue reading →
Tambora, Kebudayaan Yang Lenyap Terkubur Abu
Posted by : Ciprut-Ciprut ,on :,
Saved under :
Artikel History
Tambora adalah sebuah desa sekaligus budaya yang hilang di Pulau Sumbawa lantaran terkubur oleh abu dan aliran piroklastik dari letusan besar Gunung Tambora pada 10 April 1815. Jumlah korban meninggal dan hilang akibat peristiwa ini diklaim mencapai 90.000 jiwa. Ini merupakan bencana letusan gunung berapi terdahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Konon dampak letusan gunung Tambora kala itu turut menggetarkan dunia. Wajar saja, letusan gunung Tambora ini lebih dahsyat 4 kali lipat dari letusan gunung Krakatau pada tahun 1883, dan enam kali lebih hebat dari letusan gunung Pinatubo pada 9 Juni 1991 yang menyebabkan kehancuran kota Roman Pompeii, Filipina.
Gunung berapi Tambora melepaskan tephra lebih dari 30 kilometer kubik dan dipercaya setidaknya menciptakan 400 ton gas sulphur dioxide di lapisan atmosfir sehingga menyebabkan pendinginan global hingga suhu 1 derajat Celcius. Kemudian oleh para ahli volcanologi peristiwa ini dikenal sebagai "The Year Without A Summer (Tahun tanpa musim panas)."
Akibat peristiwa ini, Banyak Ladang di berbagai belahan dunia berangsur mati pada bulan Juni, Juli dan Agustus. Di Prancis dan Jerman, ladang anggur dan jagung pun mati, jika pun tak mati maka imbasnya adalah gagal panen.
Para Ilmuwan lokal dan mancanegara yang penasaran pun mencoba untuk mencari puing-puing desa Tambora yang hilang bak ditelan bumi. Pada tahun 2004, sebuah tim gabungan dari University of Rhode Island, tim dari University of North Carolina di Wilmington, serta tim dari Direktorat Vulkanologi Indonesia memulai penggalian arkeologi di Tambora. Tim tersebut dipimpin oleh Haraldur Sigurdsson.
Untuk melakukan pencarian situs bukanlah hal yang mudah, tim haruslah terlebih dulu memotong batuan apung dan tumpukan abu vulkanik yang memiliki ketebalan mencapai 3 meter. Selama enam minggu penggalian akhirnya ilmuan menemukan bukti pertama dari sebuah kebudayaan yang lenyap akibat letusan Tambora. Situs ini terletak jauh didalam hutan, sekitar 25 km (15,5 mil) sebelah barat Kaldera, 5 km dari tepi pantai.

Menggunakan radar penembus, Ilmuan berhasil menemukan rumah kecil yang telah tertimbun abu sisa vulkanik. Saat rumah digali, ditemukanlah sisa-sisa tulang dua orang dewasa, mangkuk perunggu, pot keramik, serta alat besi dan artefak lainnya. Dalam temuan tersebut, ternyata desain dan dekorasi artefak milik masyarakat Tambora memiliki kesamaan dengan artefak dari daerah Vietnam dan Kamboja. Tidak sampai disitu, untuk memastikan bahwa tulang yang ditemukan merupakan korban bencana letusan gunung Tambora maka ilmuwan melakukan pengujian.
Pengujian dilakukan dengan menggunakan teknik karbonisasi untuk mengungkapkan bahwa tulang yang ditemukan terdiri dari arang yang dibentuk oleh panas magma. Berdasarkan artefak yang ditemukan terutama benda perunggu, tim menyimpulkan bahwa orang-orang Tambora bukanlah masyarakat miskin. Bukti sejarah menunjukkan bahwa orang-orang di pulau Sumbawa dikenal sampai ke Hindia Timur sebagai penghasil madu, kuda, dan cendana yang digunakan untuk dupa dan obat-obatan. Daerah Tambora pun dianggap sebagai daerah pertanian yang sangat produktif.
Gunung Tambora adalah gunung yang terletak di Pulau Sumbawa. Pulau Sumbawa ini merupakan sebuah pulau yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pulau ini dibatasi oleh Selat Alas di sebelah barat (memisahkan dengan Pulau Lombok), Selat Sape di sebelah timur (memisahkan dengan Pulau Komodo), Samudera Hindia di sebelah selatan, serta Laut Flores di sebelah utara.
Legenda Meletusnya Gunung Tambora
Banyak cerita berkembang terkait sejarah Gunung Tambora atau bagaimana awal mulanya hingga meletus. Mulai dari cerita pertapa sakti yang menghilang kala semedi di gunung tersebut dan menjadikannya awal mula penamaan Tambora (yang berarti mengajak (Ta = panggilan ajakan, mbora = untuk menghilang). Hingga kisah kedatangan perantau, orang suci yang dibunuh oleh Raja Tambora dan memicu kemarahan Tuhan melalui perantara sang gunung. Kedahsyatan letusan Gunung Tambora dalam meluluhlantakkan peradaban di sekitarnya dapat kita lihat dari sisa kebudayaan masyarakat setempat yang hilang oleh tutupan lahar panas, dan mulai terkuak berkat penemuan arkeologis dari sejarawan lokal serta mancanegara. Temuan bahan logam dan gerabah menunjukkan kebudayaan maupun peradaban masyarakat setempat belum terlalu berkembang. Perkakas tersebut ada, berkat interaksi ekonomi melalui perdagangan dengan Suku Bugis, Mengkasar (Makassar), Maluku, Jawa, Melayu serta bangsa luar Nusantara seperti Arab dan China.
Hasil investigasi sebuah majalah nasional memuat panjang lebar terkait rekaman suasana magis/mistis melalui penuturan warga setempat, yang mengaku pernah memperoleh cincin dari fosil jari manusia yang sudah membatu dan tertimbun lahar beratus tahun lamanya. Diriwayatkan, cincin tersebut mengandung kekuatan supranatural, sanggup membuat pemakainya kasat mata. Sulit dipercaya memang, jika itu diungkap kepada khalayak yang sudah mengenal modernisasi teknologi dan globalisasi budaya. Namun demikianlah kisah mistis yang berkembang di sana.
Sebelum Gunung Tambora meletus, kita dapat mengetahui parahnya kerusakan moral pemimpin Tanah Tambora melalui tulisan Henri Chambert-Loir dalam buku “Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah” yang banyak mengutip penulis Belanda bernama Roorda van Eysinga (1841) dalam bukunya berjudul “Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora”. Dalam buku tersebut dijabarkan kisah orang suci asal Tanah Bengkulu (Pulau Sumatera) yang bernama Said Idrus.
Said Idrus yang menumpang kapal orang Bugis singgah di Negeri Tambora untuk berniaga. Pada suatu hari saudagar ini merapat ke darat, berkeliling daerah setempat hingga sampai waktu sholat dzuhur. Ia pun berhenti sejenak untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Orang dari negeri seberang ini terkaget ketika mendapati binatang (anjing) yang seharusnya tidak boleh berada di dalam masjid. Ia pun mengusirnya keluar. Melihat pengusiran ini, penjaga binatang tersebut marah dan melaporkan kepada Raja Tambora. Rupanya Raja Tambora adalah pemiliknya. Mendapati sesuatu yang tidak nyaman bagi peliharaannya, raja lalu memanggil Said Idrus untuk menghadap.
Kedatangan sang tamu disambut hidangan makanan dari kambing, termasuk binatang yang ia usir ketika sedang beribadah. Rupanya, Raja Tambora hendak menjebak Said Idrus dengan hidangan binatang yang ia berpantang untuk itu.
Setelah selesai memakan, raja memberitahukan perihal daging yang dimakan. Said Idrus mendebat, ia yakin raja telah salah menukar makanan. Mendapati penentangan seperti ini, raja murka dan meminta pengawal membunuh Tuanku Said Idrus. Saudagar ini dibawa ke atas Gunung Tambora. Pengawal menusukkan senjata ke tubuh Said Idrus, tetapi tidak mempan. Rupanya Said Idrus mempunyai ilmu kebal. Akhirnya dengan segala cara mereka memukuli Said Idrus beramai-ramai hingga kepala saudagar ini pecah bersemburan darah. Ia pun menemui ajalnya.
Menurut penuturan penulis Belanda ini, Konon, ketika pasukan pengawal berada di antara Tambora dan istana raja untuk pulang kembali, tiba-tiba batu, debu, lahar panas dari puncak gunung berhamburan keluar menerjang. Api mengikuti kemana orang-orang itu hendak berlari melarikan diri, hingga orang yang berlari ke laut pun terkejar.
Gunung Tambora memuntahkan perutnya dengan dahsyat. Api menyala di gunung, di negeri, di lautan, di bumi (angkasa). Ribuan orang mati terbakar. Belum padam api di gunung, menyusul kemudian datang air bah yang berasal dari tiga ombak besar dari arah Selatan. Negeri Tambora pun menjadi lautan, tujuh negeri kecil ikut tenggelam. Perahu dagang yang berlabuh terbawa hingga naik ke dalam hutan. Kemungkinan besar, karena terjangan Tsunami atau dalam istilah buku dinamakan empoh laut. “Sampai sekarang ini kapal boleh berlabuh di mana bekas Negeri Tambora adanya…,” begitulah petikan dalam buku tersebut.
Negeri-negeri tetangga Kerajaan Tambora seperti Sumbawa, Sanggara/Sanggar, Papekat/Pekat, Kerajaan Dompu dan Bima terkena bencana ini. Di Negeri Sumbawa hujan mengakibatkan binatang mati karena terpapar hujan abu. Tiga tahun lamanya warga negeri ini tidak bisa menggarap sawah. Puluhan ribu orang Sumbawa mati kelaparan, serta banyak lagi yang terkena wabah penyakit, besar kemungkinan akibat banyaknya bangkai hewan maupun manusia tidak terkubur. Mereka yang berhasil selamat meninggalkan negerinya mencari tempat aman.
Sumber referensi:
kompasiana.com
0 comments / Continue reading →
Sejarah Asal-Usul Kain Sutera
Posted by : Ciprut-Ciprut ,on :Tuesday, February 21, 2012,
Saved under :
Artikel History
![]() |
| Ulat Sutera |
Awal Mula Sutera
Menurut tradisi Cina, sejarah sutera telah dimulai sejak abad ke-27 SM. Pada saat itu penggunaannya terbatas hanya untuk negeri Cina, hingga Jalur Sutra dibuka di beberapa titik selama paruh kedua milenium pertama SM.
Hingga seribu tahun kedepan, monopoli atas sutera masih dikuasai China. Pada saat itu kegunaan sutra tidak hanya terbatas pada pakaian, namun telah digunakan untuk sejumlah aplikasi lain seperti tulisan.
Hingga seribu tahun kedepan, monopoli atas sutera masih dikuasai China. Pada saat itu kegunaan sutra tidak hanya terbatas pada pakaian, namun telah digunakan untuk sejumlah aplikasi lain seperti tulisan.
Budidaya sutera menyebar ke Jepang sekitar 300M. Sekitar 522 Bizantium berhasil memperoleh telur ulat dan mulai mampu membudidayakan ulat sutera. Orang-orang Arab juga mulai memproduksi sutera dalam kurun waktu yang sama. Sebagai hasil dari penyebaran Sericulture, ekspor sutera di Cina menjadi sedikit berkurang, namun mereka masih mendominasi pasar sutra mewah.
| Kepompong ulat Sutera |
Saat Perang Salib, produksi sutra dibawa ke Eropa Barat, khususnya ke negara Italia. Banyak yang melihat ekspor sutera ke seluruh Eropa sebagai peluang yang menjanjikan karena dapat meningkatkan perekonomian.
Selama abad pertengahan, perubahan teknik manufaktur juga mulai terjadi. Dari yang sebelumnya menggunakan alat primitif, berubah menggunakan alat pemintal semacam roda berputar yang pertama kali muncul. Pada abad ke-16 Perancis dan Italia berhasil mengembangkan perdagangan sutera, saat itu justru banyak negara-negara lain yang tidak berhasil mengembangkan industri sutera.
Revolusi Industri banyak mengubah industri sutera di Eropa. Karena inovasi dalam pemintalan kapas saat itu menjadi jauh lebih murah dalam memproduksi dan karena itu menyebabkan produksi sutera lebih mahal. Teknologi tenun baru telah meningkatkan efisiensi produksi. Salah satu diantaranya adalah mesin tenun Jacquard yang dikembangkan untuk bordir sutera.
![]() |
| Kain Olahan Sutera |
Perjalanan panjang sejarah sutera sempat terhenti. Sebab, sebuah wabah penyakit ulat sutera terjadi dan berakibat pada menurunnya produksi sutera, terutama di Perancis, di mana industri sutera tidak dapat ditemukan. Pada abad ke-20 Jepang dan Cina kembali berperan untuk memproduksi sutera. Dan kini, Cina merupakan produsen sutera terbesar didunia.
Bukti awal ditemukannya sutra terdapat di situs-situs budaya Yangshao di Xia, Shanxi, antara 4000 dan 3000 SM. Di mana kepompong sutra yang ditemukan telah dipotong setengah menggunakan pisau tajam. Spesies ini diidentifikasi sebagai Bombyx mori, yakni ulat sutra yang dipelihara. Bukti dari alat tenun primitif juga bisa dilihat dari situs-situs budaya Hemudu di Yuyao, Zhejiang, pada periode sekitar 4000 SM. Isi Forum sutra ditemukan di sebuah budaya Liangzhu di situs Qianshanyang di Huzhou, Zhejiang, pada periode 2700 SM. Bukti lainnya juga ditemukan dari makam kerajaan di Dinasti Shang (1600-1046 SM).
Mitologi Sutera
Tulisan-tulisan Konfusius dan tradisi Cina menceritakan bahwa pada abad ke-27 SM sebuah kepompong ulat sutra tak sengaja jatuh ke dalam cangkir teh milik seorang permaisuri bernama Leizu. Mengharapkan khasiat karena meminumnya, gadis muda berusia empat belas ini mulai membuka gulungan benang kepompong. Si gadis kemudian memiliki ide untuk menenun gulungan benang tersebut. Setelah mengamati kehidupan ulat sutra, suaminya sang Kaisar Kuning merekomendasikannya untuk membudidayakan ulat sutera. Gadis pun mulai menginstruksikan rombongannya untuk membudidayakan ulat sutra itu. Inilah awal mula sang permaisuri dipuja sebagai dewi sutera dalam mitologi Cina.
0 comments / Continue reading →
Mengenal Berbagai Simbol Gender/Jenis Kelamin
Posted by : Ciprut-Ciprut ,on :Wednesday, February 15, 2012,
Saved under :
Artikel History

Simbol gender merupakan simbol yang digunakan untuk menunjukkan jenis kelamin dari bentuk kehidupan serta untuk mengkarakterisasi suatu jenis kelamin. Secara umum seperti yang kita ketahui, hanya terdapat dua simbol standar yang sering digunakan untuk melambangkan jenis kelamin yakni simbol jantan dan betina. Namun, sekarang ini penggunaan simbol-simbol tersebut semakin meluas
Dua simbol standar menunjukkan jenis kelamin jantan ♂ dan betina ♀ berasal dari simbol astrologi yang menunjuk ke planet klasik Mars dan Venus.
Simbol-simbol tersebut telah digunakan sejak zaman Renaissance untuk mengenal elemen dalam alkimia, khususnya logam besi dan tembaga.Simbol-simbol ini pertama kali digunakan oleh Carolus Linnaeus pada 1751 untuk menunjukkan jenis kelamin efektif tanaman (seks diberikan pada individu blasteran, karena kebanyakan tanaman adalah hermafrodit ).
Mars simbol (♂). Simbol untuk organisme jantan.
Venus simbol (♀). Simbol untuk organisme betina.
Simbol Pria dan Wanita
Simbol-simbol ini telah lama digunakan untuk mewakili pria dan wanita. Simbol seperti ini diberikan kepada masing-masing dewa-dewa Romawi (Sama dengan dewa-dewa Yunani, hanya dengan nama yang berbeda).
Simbol ini semua menggunakan lingkaran dengan semacam tanda pengidentifikasi yang melekat.
Lingkaran dengan panah melekat di sekitar posisi jam dua, merupakan perlambangan dari Mars (Ares dalam bahasa Yunani), dewa perang, dan simbol maskulinitas yang kuat. Karena ciri khas tersebut, maka simbol ini ditujukan pada pria.
![]() |
| Heteroseksual |
Jika dua simbol Pria dan Wanita digabungkan, itu akan berarti beberapa hal. Dan banyak yang menyetujui apabila simbol gender pria dan wanita digabungkan akan menunjukkan pada simbol heteroseksual. Sebagian menilai, simbol ini merupakan cara heteroseksual dalam menunjukkan kebanggaan untuk orientasi sendiri.
Simbol Gay, Lesbian, dan Feminisme
Sekitar tahun 1970-an, pria gay mulai menggunakan dua simbol laki-laki untuk melambangkan homoseksualitas pria. Penggunaan simbol ini tentu memiliki jedah untuk menghindari panah dari salah satu simbol memotong lingkaran yang lain. Tak berselang lama, beberapa lesbian pun mulai menggunakan dua simbol perempuan untuk melambangkan homoseksualitas perempuan. Namun hal ini ternyata membawa masalah karena sebagian wanita yang tergabung dalam gerakan feminis menggunakan simbol yang sama untuk mewakili persaudaraan perempuan. Hanya saja, kaum feminis menggunakan tiga simbol untuk mewakili saling lesbianisme.
Yang nampaknya agak aneh, mengapa tidak membiarkan dua simbol berarti lesbianisme dan tiga simbol berarti persaudaraan dari semua wanita? Itu akan lebih masuk akal bagi mereka. Dua simbol berarti lesbianisme dan tiga simbol berdiri untuk persaudaraan perempuan.
Simbol Biseksual
Untuk menterjemahkan simbol biseksual, kemungkinan besar sebagian orang akan sangat kebingungan. Ini disebabkan karena penggambaran simbol yang terbilang rumit, mengenai si pria atau wanita kah yang merupakan biseksual.
Namun pada dasarnya untuk mengenali apa pun jenis kelamin orang yang biseksual dilihat dari jumlah terbanyak simbol jenis kelamin yang ada.
Dua simbol jenis kelamin pria dengan satu simbol jenis kelamin wanita menunjukan bahwa jenis kelamin pria yang merupakan biseksual. Begitu juga sebaliknya, jika ada dua simbol berjenis kelamin wanita dikombinasikan dengan sebuah simbol jenis kelamin pria berarti menunjukan wanita lah yang biseksual. Lalu bagaimana simbol untuk menggambarkan jika pasangan wanita dan pria ternyuata sama-sama biseksual? Untuk menggambarkan hal tersebut maka simbol yang digunakan adalah dua simbol berjenis kelamin pria dikombinasikan dengan dua simbol berjenis kelamin watina.
Simbol Transgender
Transgender merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan sejak mereka lahir. "Transgender" tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari orientasi seksual mereka. Orang-orang transgender dapat saja mengidentifikasikan dirinya sebagai heteroseksual, homoseksual, biseksual, panseksual, poliseksual, atau aseksual. Orang transgender memiliki dua simbol untuk dipilih. Yang pertama dan paling jelas adalah penggabungan simbol-simbol laki-laki dan perempuan. Simbol tersebut berupa sebuah lingkaran dengan tanda silang dibagian bawah dan panah pada lingkaran yang sama. Ini melambangkan bagian jantan dan betina yang melekat dalam satu pribadi. Simbol ini merupakan simbol yang paling inklusif dari dua simbol lainnya dan yang paling dikenal. Dalam artian sederhana, ini menunjukkan beberapa tingkat androgini.
![]() |
| Transgender Merkurius |
Simbol transgender lainnya sama sekali mengabaikan simbol Mars dan Venus dan menggunakan simbol Merkurius. Dalam mitologi Yunani, Aphrodite (Venus) memiliki anak dengan Mercury (Hermes). Anak itu bernama Hermaphroditus dan memiliki dua alat kelamin pria dan wanita. Namanya juga menjadi asal kata hermaprodit.
Simbol Merkurius memiliki cross memperpanjang bawah untuk mewakili feminitas dan bulan sabit di bagian atas untuk mewakili maskulinitas. Keduanya ditempatkan di ujung-ujung lingkaran untuk menyerang keseimbangan antara bagian laki-laki dan perempuan. Simbol ini tampaknya berbicara lebih kepada orang-orang yang mengidentifikasi trangendered hermaphroditically atau andgroynously.
Edited By Bangharri
0 comments / Continue reading →
-
Simbol gender merupakan simbol yang digunakan untuk menunjukkan jenis kelamin dari bentuk kehidupan serta untuk mengkarakterisasi suatu jeni...
-
Salam Kenal Sobat, postingan pertama nih tentang internet gratis atau lebih dikenal dengan istilah gretongan. Nampaknya Si Tere sedang genca...
-
Ryno Motorcycle merupakan salah satu pelopor motor beroda satu di dunia. Ryno diproduseni oleh perusahaan motor asal Portland, Oregon, Ameri...
-
K ebutuhan akan ponsel saat ini bukan terbatas sebagai alat komunikasi semata. Dewasa justru ada beberapa orang bahkan perusahaan yang khusu...
-
Kahlil Gibran Beberapa dari kamu berkata, "Kegembiraan lebih besar dari kesedihan," namun yang lainnya mengatakan, "Tidak, pe...
-
Ulat Sutera Sutera merupakan serat protein alami yang beberapa jenisnya dapat ditenun menjadi tekstil. Jenis sutera yang paling dikenal adal...
-
T ambora adalah sebuah desa sekaligus budaya yang hilang di Pulau Sumbawa lantaran terkubur oleh abu dan aliran piroklastik dari letusan bes...
-
Kopi yang satu ini sering dikategorikan sebagai cocktail dibandingkan kopi. Terdiri dari campuran kopi hitam yang kental dengan Whiskey den...
-
S ebagian dari kita pasti sudah akrab dengan kata Zombie. Zombie lebih dikenal luas sebagai mayat hidup pemakan manusia dan banyak diangkat ...
-
Ilustrasi (Gambar Diculik Dari Google) Selama ini kita mengetahui bahwa nama malaikat maut alias malaikat pencabut nyawa adalah ‘Izrail. Ba...
Popular Post
Labels
Artikel Pengetahuan
(15)
Artikel Berita
(11)
Artikel Kesehatan
(10)
Artikel Unik
(10)
Artikel Islam
(8)
Artikel Kisah
(6)
Artikel Asah Otak
(4)
Artikel History
(4)
Komputer
(4)
Kata-Kata Bijak
(3)
Misteri
(3)
PC
(3)
Artikel Humor
(2)
Artikel Bermanfaat
(1)
Artikel Kerja
(1)
HP
(1)
Handphone
(1)
Hot News
(1)
aneh
(1)
tes page
(1)
Blog Archive
-
▼
2012
(101)
-
▼
November
(16)
- 10 Handphone Termahal Didunia
- Ayah,, Lebih Berharga Dirimu Dari Uang Itu
- kode-kode html
- Ilmuan Ungkap Berduaan Dengan Lawan Jenis Picu Pen...
- Obama Terpilih, Amerika Akan Menjadi Lebih Ramah
- Cinta Tak Butuh Alasan
- Tambora, Kebudayaan Yang Lenyap Terkubur Abu
- Tambora, Kebudayaan Yang Lenyap Terkubur Abu
- Peneliti Klaim Batuan Di Meksiko Sama Dengan Di Mars
- Peneliti Klaim Batuan Di Meksiko Sama Dengan Di Mars
- Unik, Gajah Bisa Bahasa Korea
- Motor Roda Satu Dari Ryno Motorcycle
- 5 Mitologi Zombie Terpopuler
- 5 Mitologi Zombie Terpopuler
- Struktur Batu Rusa Raksasa Ditemukan
- Cara Merubah Server Opera Turbo
-
▼
November
(16)







