Home » » Tambora, Kebudayaan Yang Lenyap Terkubur Abu

Tambora, Kebudayaan Yang Lenyap Terkubur Abu

Tambora adalah sebuah desa sekaligus budaya yang hilang di Pulau Sumbawa lantaran terkubur oleh abu dan aliran piroklastik dari letusan besar Gunung Tambora pada 10 April 1815. Jumlah korban meninggal dan hilang akibat peristiwa ini diklaim mencapai 90.000 jiwa. Ini merupakan bencana letusan gunung berapi terdahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah.

Konon dampak letusan gunung Tambora kala itu turut menggetarkan dunia. Wajar saja, letusan gunung Tambora ini lebih dahsyat 4 kali lipat dari letusan gunung Krakatau pada tahun 1883, dan enam kali lebih hebat dari letusan gunung Pinatubo pada 9 Juni 1991 yang menyebabkan kehancuran kota Roman Pompeii, Filipina.

Gunung berapi Tambora melepaskan tephra lebih dari 30 kilometer kubik dan dipercaya setidaknya menciptakan 400 ton gas sulphur dioxide di lapisan atmosfir sehingga menyebabkan pendinginan global hingga suhu 1 derajat Celcius. Kemudian oleh para ahli volcanologi peristiwa ini dikenal sebagai "The Year Without A Summer (Tahun tanpa musim panas)."

Akibat peristiwa ini, Banyak Ladang di berbagai belahan dunia berangsur mati pada bulan Juni, Juli dan Agustus. Di Prancis dan Jerman, ladang anggur dan jagung pun mati, jika pun tak mati maka imbasnya adalah gagal panen.

Para Ilmuwan lokal dan mancanegara yang penasaran pun mencoba untuk mencari puing-puing desa Tambora yang hilang bak ditelan bumi. Pada tahun 2004, sebuah tim gabungan dari University of Rhode Island, tim dari University of North Carolina di Wilmington, serta tim dari Direktorat Vulkanologi Indonesia memulai penggalian arkeologi di Tambora. Tim tersebut dipimpin oleh Haraldur Sigurdsson.

Untuk melakukan pencarian situs bukanlah hal yang mudah, tim haruslah terlebih dulu memotong batuan apung dan tumpukan abu vulkanik yang memiliki ketebalan mencapai 3 meter. Selama enam minggu penggalian akhirnya ilmuan menemukan bukti pertama dari sebuah kebudayaan yang lenyap akibat letusan Tambora. Situs ini terletak jauh didalam hutan, sekitar 25 km (15,5 mil) sebelah barat Kaldera, 5 km dari tepi pantai.

Menggunakan radar penembus, Ilmuan berhasil menemukan rumah kecil yang telah tertimbun abu sisa vulkanik. Saat rumah digali, ditemukanlah sisa-sisa tulang dua orang dewasa, mangkuk perunggu, pot keramik, serta alat besi dan artefak lainnya.


Dalam temuan tersebut, ternyata desain dan dekorasi artefak milik masyarakat Tambora memiliki kesamaan dengan artefak dari daerah Vietnam dan Kamboja. Tidak sampai disitu, untuk memastikan bahwa tulang yang ditemukan merupakan korban bencana letusan gunung Tambora maka ilmuwan melakukan pengujian.

Pengujian dilakukan dengan menggunakan teknik karbonisasi untuk mengungkapkan bahwa tulang yang ditemukan terdiri dari arang yang dibentuk oleh panas magma. Berdasarkan artefak yang ditemukan terutama benda perunggu, tim menyimpulkan bahwa orang-orang Tambora bukanlah masyarakat miskin. Bukti sejarah menunjukkan bahwa orang-orang di pulau Sumbawa dikenal sampai ke Hindia Timur sebagai penghasil madu, kuda, dan cendana yang digunakan untuk dupa dan obat-obatan. Daerah Tambora pun dianggap sebagai daerah pertanian yang sangat produktif.

Gunung Tambora adalah gunung yang terletak di Pulau Sumbawa. Pulau Sumbawa ini merupakan sebuah pulau yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pulau ini dibatasi oleh Selat Alas di sebelah barat (memisahkan dengan Pulau Lombok), Selat Sape di sebelah timur (memisahkan dengan Pulau Komodo), Samudera Hindia di sebelah selatan, serta Laut Flores di sebelah utara.

Legenda Meletusnya Gunung Tambora

Banyak cerita berkembang terkait sejarah Gunung Tambora atau bagaimana awal mulanya hingga meletus. Mulai dari cerita pertapa sakti yang menghilang kala semedi di gunung tersebut dan menjadikannya awal mula penamaan Tambora (yang berarti mengajak (Ta = panggilan ajakan, mbora = untuk menghilang). Hingga kisah kedatangan perantau, orang suci yang dibunuh oleh Raja Tambora dan memicu kemarahan Tuhan melalui perantara sang gunung.

Kedahsyatan letusan Gunung Tambora dalam meluluhlantakkan peradaban di sekitarnya dapat kita lihat dari sisa kebudayaan masyarakat setempat yang hilang oleh tutupan lahar panas, dan mulai terkuak berkat penemuan arkeologis dari sejarawan lokal serta mancanegara. Temuan bahan logam dan gerabah menunjukkan kebudayaan maupun peradaban masyarakat setempat belum terlalu berkembang. Perkakas tersebut ada, berkat interaksi ekonomi melalui perdagangan dengan Suku Bugis, Mengkasar (Makassar), Maluku, Jawa, Melayu serta bangsa luar Nusantara seperti Arab dan China.

Hasil investigasi sebuah majalah nasional memuat panjang lebar terkait rekaman suasana magis/mistis melalui penuturan warga setempat, yang mengaku pernah memperoleh cincin dari fosil jari manusia yang sudah membatu dan tertimbun lahar beratus tahun lamanya. Diriwayatkan, cincin tersebut mengandung kekuatan supranatural, sanggup membuat pemakainya kasat mata. Sulit dipercaya memang, jika itu diungkap kepada khalayak yang sudah mengenal modernisasi teknologi dan globalisasi budaya. Namun demikianlah kisah mistis yang berkembang di sana.

Sebelum Gunung Tambora meletus, kita dapat mengetahui parahnya kerusakan moral pemimpin Tanah Tambora melalui tulisan Henri Chambert-Loir dalam buku “Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah” yang banyak mengutip penulis Belanda bernama Roorda van Eysinga (1841) dalam bukunya berjudul “Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora”. Dalam buku tersebut dijabarkan kisah orang suci asal Tanah Bengkulu (Pulau Sumatera) yang bernama Said Idrus.

Said Idrus yang menumpang kapal orang Bugis singgah di Negeri Tambora untuk berniaga. Pada suatu hari saudagar ini merapat ke darat, berkeliling daerah setempat hingga sampai waktu sholat dzuhur. Ia pun berhenti sejenak untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Orang dari negeri seberang ini terkaget ketika mendapati binatang (anjing) yang seharusnya tidak boleh berada di dalam masjid. Ia pun mengusirnya keluar. Melihat pengusiran ini, penjaga binatang tersebut marah dan melaporkan kepada Raja Tambora. Rupanya Raja Tambora adalah pemiliknya. Mendapati sesuatu yang tidak nyaman bagi peliharaannya, raja lalu memanggil Said Idrus untuk menghadap.

Kedatangan sang tamu disambut hidangan makanan dari kambing, termasuk binatang yang ia usir ketika sedang beribadah. Rupanya, Raja Tambora hendak menjebak Said Idrus dengan hidangan binatang yang ia berpantang untuk itu.

Setelah selesai memakan, raja memberitahukan perihal daging yang dimakan. Said Idrus mendebat, ia yakin raja telah salah menukar makanan. Mendapati penentangan seperti ini, raja murka dan meminta pengawal membunuh Tuanku Said Idrus. Saudagar ini dibawa ke atas Gunung Tambora. Pengawal menusukkan senjata ke tubuh Said Idrus, tetapi tidak mempan. Rupanya Said Idrus mempunyai ilmu kebal. Akhirnya dengan segala cara mereka memukuli Said Idrus beramai-ramai hingga kepala saudagar ini pecah bersemburan darah. Ia pun menemui ajalnya.

Menurut penuturan penulis Belanda ini, Konon, ketika pasukan pengawal berada di antara Tambora dan istana raja untuk pulang kembali, tiba-tiba batu, debu, lahar panas dari puncak gunung berhamburan keluar menerjang. Api mengikuti kemana orang-orang itu hendak berlari melarikan diri, hingga orang yang berlari ke laut pun terkejar.

Gunung Tambora memuntahkan perutnya dengan dahsyat. Api menyala di gunung, di negeri, di lautan, di bumi (angkasa). Ribuan orang mati terbakar. Belum padam api di gunung, menyusul kemudian datang air bah yang berasal dari tiga ombak besar dari arah Selatan. Negeri Tambora pun menjadi lautan, tujuh negeri kecil ikut tenggelam. Perahu dagang yang berlabuh terbawa hingga naik ke dalam hutan. Kemungkinan besar, karena terjangan Tsunami atau dalam istilah buku dinamakan empoh laut. “Sampai sekarang ini kapal boleh berlabuh di mana bekas Negeri Tambora adanya…,” begitulah petikan dalam buku tersebut.

Negeri-negeri tetangga Kerajaan Tambora seperti Sumbawa, Sanggara/Sanggar, Papekat/Pekat, Kerajaan Dompu dan Bima terkena bencana ini. Di Negeri Sumbawa hujan mengakibatkan binatang mati karena terpapar hujan abu. Tiga tahun lamanya warga negeri ini tidak bisa menggarap sawah. Puluhan ribu orang Sumbawa mati kelaparan, serta banyak lagi yang terkena wabah penyakit, besar kemungkinan akibat banyaknya bangkai hewan maupun manusia tidak terkubur. Mereka yang berhasil selamat meninggalkan negerinya mencari tempat aman.

Sumber referensi:
kompasiana.com


Maybe You Like To Share This Article..


Saved under :
Avatar

by Ciprut-Ciprut

Just sharing my knowledge. Berbagi pengetahuan adalah amal. Sebagaimana kata pepatah, sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang lain dan sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat.

0 Comments
Tweets
Fb Comments

No comments:

Leave a Reply